Pembangunan Gardu Induk MRT di Monas Dikritik

Kompas.com - 26/10/2018, 19:02 WIB
Petugas melakukan perawatan rutin rangkaian kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta di Depo MRTJ, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2018). Direktur Utama MRTJ  William Sabandar menyatakan hingga 25 April 2018 proses pembangunan MRT sudah mencapai 93,45 persen. saat diskusi dengan media dia Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan. WARTA KOTA/ALEX SUBANPetugas melakukan perawatan rutin rangkaian kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta di Depo MRTJ, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2018). Direktur Utama MRTJ William Sabandar menyatakan hingga 25 April 2018 proses pembangunan MRT sudah mencapai 93,45 persen. saat diskusi dengan media dia Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana PT MRT Jakarta membangun receiving sub station (RSS) atau gardu induk Fase 2 MRT di bawah tanah Monas dikritik.

Pembangunan tersebut dikhawatirkan dapat merusak Monas yang menjadi salah satu cagar budaya.

"Kita dukung pembangunan MRT tetapi kita harus selamatkan Lapangan Merdeka (Monas) dan kita carikan solusi terbaik untuk pengganti stasiun MRT Monas. SOS!," demikian tulis arsitek Bambang Eryudhawan lewat akun Facebook-nya, Jumat (26/10/2018).

Bila tak ada aral melintang, pembangunan RSS akan dimulai pada Desember mendatang. Pembangunan ini sekaligus menandai dimulainya proyek Fase 2 yang menelan investasi sebesar Rp 22,5 triliun.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim menjelaskan, lelang pengadaan konstruksi akan dilaksanakan pada awal Oktober mendatang.

Sebenarnya, lelang telah dilakukan. Namun peserta yang mengikuti proses ini hanya sedikit.

"Peserta lelang (yang lalu) sedikit, lima kontraktor lokal. Kelimanya dinyatakan tidak lulus evaluasi sehingga lelang dinyatakan gagal dan harus diulang," kata Silvia seperti dikutip dari Harian Kompas, Kamis (25/10/2018).

Diharapkan, pemenang lelang sudah dapat diketahui pada awal Desember sehingga pembangunan tetap sesuai target.

Silvia menjelaskan, pembangunan Fase 2 menggunakan dana dari Pemerintah Jepang yang disalurkan lewat Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan bentuk Japan Tied.

Artinya, ada keharusan penggunaan komponen Jepang 30 persen dalam pembangunannya. Namun, untuk pembangunan gardu induk Monas, akan dikerjakan kontraktor Indonesia.

Pasalnya, proyek ini tergolong paket kecil.

"Karena paketnya kecil, dimungkinkan dilakukan oleh kontraktor lokal," tutur Silvia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X