Milenial, Generasi "Seksi" yang Makin Diperebutkan - Kompas.com

Milenial, Generasi "Seksi" yang Makin Diperebutkan

Kompas.com - 22/09/2018, 21:16 WIB
Ilustrasi generasi milenialSHUTTERSTOCK Ilustrasi generasi milenial

JAKARTA, KOMPAS.com - Promosi beragam produk, terutama properti, yang menyasar generasi milenial, makin memenuhi ruang publik. 

"Apartemen ini paling cocok untuk milenials. Harga terjangkau, cicilan murah, dekat LRT", atau " Generasi milenial, daripada uang habis untuk jalan-jalan, mending beli rumah. Tanpa DP, cicilan ringan".

Terbaru adalah perusahaan pelapis lantai dan dinding yang mamanfaatkan terminologi milenial dalam gelaran pamer bincang pada Jumat (21/9/2018) sore di Senayan City, Jakarta.

Penggelar acara, Taco Interior Products, memberi judul Desain Interior Magnet Menggaet Konsumen Millenials. Mentereng sekali bukan?

Baca juga: Hanya Bayar DP 5 Persen, Milenial Bisa Punya Rumah

Itu hanyalah sekelumit kampanye iklan, dan promosi yang digembar-gemborkan para pengembang properti, dan pelaku bisnis turunannya, demi memikat kalangan berusia 15 tahun hingga 35 tahun (untuk selanjutnya ditulis millenials).

Mengapa millenials diseret-seret dalam materi kampanye iklan dan promosi para pengembang, dan pelaku bisnis terkait properti?

Gampang sekali menjawab pertanyaan ini. Jumlah mereka lebih banyak, dan lebih seksi ketimbang generasi X, dan generasi baby boomers.

IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi
Selain itu, menurut VP Corporate Marketing TACO Home Interior Products Satria Utama, mereka mampu membeli produk yang tengah tren, dan menjadi perbincangan di media sosial.

"Kampanye untuk millenials ini kami yakini efektif meningkatkan penjualan. Setelah mereka beli produk ini, dan puas, tentu akan merekomendasikannya ke teman-temannya melalui media sosial. Ini promosi efektif," kata Satria.

Demikian halnya dengan produk apartemen. Direktur PT Permata Sakti Mandiri Agus Susilo mengatakan, generasi milenial, terlebih pembeli rumah pertama atau first home buyer, potensial menambah pundi pendapatan perusahaan.

Baca juga: Apartemen Mewah Incaran Crazy Rich Indonesians

"Karena itu, kami membuat promos khusus untuk mereka, apartemen tanpa down payment (DP) dan cicilan ringan," kata Agus kepada Kompas.com, Sabtu (22/9/2018).

Millenials adalah generasi yang lahir kurun 1981 hingga 2000. Menurut Alvara Research Center yang mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah generasi ini akan makin tumbuh pada masa mendatang.

Pada tahun 2020, millenials  akan sebanyak 83 juta jiwa atau 34 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 271 juta jiwa.

Milenial.www.shutterstock.com Milenial.
Proporsi tersebut lebih besar dari generasi X yang sejumlah 53 juta jiwa (20 persen), maupun generasi baby boomers yang hanya tinggal 35 juta jiwa (13 persen).
 
Sementara menurut data Bappenas, millenials Indonesia yang merupakan usia produktif ini mencapai sekitar 90 juta.  
 
Angka ini lebih banyak ketimbang lima negara Asia lainnya yang memiliki produk domestik bruto (PDB) besar seperti China, Jepang, India, dan Korea.
 
Negara-negara itu, kata Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, saat ini justru mulai memasuki fase aging population karena penduduk tuanya mulai mendominasi total jumlah penduduk.
 
Melek teknologi
 
Lebih jauh Alvara menulis, millenials merupakan generasi yang unik, dan berbeda dengan generasi lain. Hal ini banyak dipengaruhi oleh munculnya gawai pintar, meluasnya internet dan munculnya jejaring media sosial.
 
Ketiga hal tersebut banyak memengaruhi pola pikir, nilai-nilai dan perilaku yang dianut. Kesimpulannya, millenials  adalah generasi yang “melek teknologi”.
 
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi
Ini sesuai dengan riset yang dirilis oleh Pew Research Center secara gamblang menjelaskan keunikan millenials  dibanding generasi-generasi sebelumnya.
 
Yang mencolok dari millenials ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi yang sangat masif, dengan frekuensi tinggi.
 
"Tentu ini sangat menguntungkan bagi pelaku bisnis. Terutama perusahaan yang menyediakan produk yang bisa di-afford oleh millenials pebisnis pemula," tambah Satria.
 
Contohnya Nino Fernandez, pemilik kedai Kopi "Di Bawah Tangga" yang mendesain kedainya dengan desain sangat "anak muda" dan kekinian.
 
 
Nino mengaku menggunakan material Taco untuk menampilkan atmosfer kafe yang cozy, dan sekaligus modern. Harga produk Taco kompetitif, sesuai dengan harga kopi yang dia tawarkan.
 
"Hanya dengan Rp 19.000, anak-anak muda bisa nongkrong 'Di Bawah Tangga' dan berswafoto yang kemudian mereka unggah di media sosial. Ini jelas efektif, makin banyak penggemar kopi yang datang," tutur Nino.
 
Perilaku membeli properti
 
Sementara CEO Leads Property Indonesia Hendra Hartono berpendapat, millenials adalah generasi produktif yang punya ambisi besar, dan ingin mengejar pencapaian (karir) dalam kehidupan profesional.
 
Ilustrasi apartemen studioFresh Home Ilustrasi apartemen studio
"Mereka bukan hanya anak para konglomerat, melainkan juga yang berasal dari keluarga menengah, dan menengah atas dengan berlatar pendidikan tinggi," kata dia.
 
Mereka, tambah Hendra, berkarir di korporasi dengan posisi asisten manajer hingga menajer senior yang memang memiliki kemampuan untuk membeli sesuatu, bisa mobil, motor, dan juga properti.
 
Barang pertama yang akan dibeli oleh millenials adalah gawai untuk kebutuhan media sosial. Kemudian, jika penghasilan lebih dari Rp 10 juta-Rp 15 juta per bulan, mereka akan membeli kendaraan untuk membangun jaringan sosial (social network).
 
"Baru setelah itu, terpikir untuk membeli rumah dan apartemen," imbuh Hendra.
 
Menariknya, perilaku millenials dalam membeli properti sangat jauh berbeda dengan generasi X dan baby boomers.

Mereka lebih memilih kos di rumah atau apartemen studio di tengah kota ketimbang menetap di pinggiran dan harus jadi komuter.

Baca juga: Crazy Rich Indonesians Beli Apartemen Rp 110 Juta Per Meter Persegi

"Millenials tidak suka membuang waktu di jalan hingga berjam-jam dari rumah ke kantor mereka," cetus dia.

Properti yang terintegrasi dengan transportasi publik macam commuter line, Transjakarta dan kelak MRT atau LRT, menuju central business district (CBD), ke bandara, atau ke tempat beraktivitas lainnya, adalah paling banyak dipilih millenials.

Hidup di apartemen studio tidak berarti Anda harus hidup dengan penuh keterbatasan. Sedikit kreatifitas membuat interior apartemen studio tetap menarik.Ashley Camper Hidup di apartemen studio tidak berarti Anda harus hidup dengan penuh keterbatasan. Sedikit kreatifitas membuat interior apartemen studio tetap menarik.
"Properti yang memenuhi keinginan seperti ini adalah impian millenials. Karena telah tumbuh kesadaran mereka untuk memanfaatkan transportasi publik ketimbang kendaraan pribadi," jelas Hendra.

Ada pun harga properti yang bisa mereka jangkau adalah di bawah Rp 1 miliar, yakni serentang Rp 400 juta hingga Rp 700 juta.

Dengan asumsi pendapatan Rp 10 juta per bulan yang masih bisa terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang, properti tersebut hanya bisa dibeli dengan pendapatan ganda.

Maksudnya, masih sangat berat bagi milenial yang baru merintis karir dan hanya mengandalkan pendapatan sendiri untuk membeli apartemen di tengah kota. 

Baca juga: Generasi Milenial Nyicil Rumah Meningkat Setiap Tahun

Jadi, kata Hendra, jika pengembang ingin menggarap pasar millenials, terapkan strategi kemudahan pembayaran seperti DP ringan, cicilan murah dan tenor yang panjang.

 



Close Ads X