Kompas.com - 30/08/2018, 13:00 WIB

SOLO, KOMPAS.com - Bangunan cagar budaya juga harus melalui perawatan serta pemeliharaan agar mampu bertahan di tengah perkembangan zaman.

Dosen arsitektur Universitas Sebelas Maret dan pemerhati bangunan cagar budaya Titis Srimuda Pitana mengatakan, pemeliharaan harus dilakukan dengan hati-hati.

Sebab, hal ini bisa memengaruhi nilai artistik dan estetika bangunan. Perawatan dan pemeliharaan yang dilakukan asal-asalan dikhawatirkan bisa merusak bangunan.

Baca juga: Menikmati Loji Gandrung Sepeninggal Jokowi

"Nilai penting suatu bangunan sebagai objek cagar budaya salah satunya terletak pada nilai historisnya," ungkap Titis kepada Kompas.com, Rabu (29/8/2018) siang.

Dia menambahkan, penanganan bangunan cagar budaya harus melalui kaidah yang sudah ditetapkan. Selain itu, konservasi atau pemeliharaan secara menyeluruh harus didahului dengan kajian arkeologis.

Aturan tersebut, menurut dia, berlaku untuk segala jenis perubahan bangunan. Bahkan penambahan elemen baru harus memerhatikan apakah bahan dan metode yang digunakan bisa merusak tatanan artistik gedung atau tidak.

Renovasi dilakukan di bagian pelataran loji Gandrung. Tampak patung JenderalGatoto Subroto menghiasi halaman depan bangunan ini. KOMPAS.com/ROSIANA HARYANTI Renovasi dilakukan di bagian pelataran loji Gandrung. Tampak patung JenderalGatoto Subroto menghiasi halaman depan bangunan ini.
Perubahan dan penambahan elemen baru, bisa menjadi bumerang ketika pengelola tidak mampu memerhatikan konsep dasar rancangan bangunan cagar budaya.

Jika ingin menambahkan elemen atau bangunan baru di sekitarnya, harus memperhatikan detail dan desain. Titis menambahkan, jangan sampai bentuk bangunan tambahan menyerupai bangunan aslinya.

"Kalau menyamai banyak orang bingung, yang mana bangunan asli, mana yang enggak," ujar laki-laki yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Cagar Budaya ini.

Selain itu, setiap upaya konservasi harus disertai dengan dokumentasi. Setiap upaya pendokumentasian perubahan bangunan cagar budaya bisa menjadi salah satu upaya untuk mengedukasi masyarakat mengenai sejarah dan arsitektur bangunan lawas.

"Pendokumentasian harus ada, jadi jejak heritage bisa ditelusuri," ujar Titis.

Pendokumentasian bisa berbentuk foto sebelum bangunan direnovasi. Ada pula yang masih menyisakan bagian asli bangunan sehingga masyarakat bisa mengetahui bentuk dan rupa aslinya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.