Banyaknya rumah yang roboh saat gempa mengindikasikan kurangnya sosialisasi dan pengetahuan mengenai rumah yang aman terhadap gempa.
Selain itu ada faktor lain yang menyebabkan banyaknya bangunan runtuh, yakni perubahan material bangunan rumah tradisional.
Meski rumah penduduk dewasa ini sudah menggunakan beton, namun desain utama masih menggunakan rancangan rumah tradisional. Padahal, rumah tradisional memang dirancang untuk menahan beban yang ringan.
“Dari beberapa gempa di Yogya tahun 2006, Tasik 2007, Bengkulu 2007, dan di Padang 2009 hampir semua bentuknya malah rumah tembok. Karena bangunannya berat dan waktu membangun tidak memperhatikan detail desainnya, maka banyak yang roboh” ucap Iman.
Iman memberikan contoh kejadian saat gempa Yogyakarta pada tahun 2006. Banyak rumah warga yang masih menggunakan desain rumah tradisional, namun dinding yang seharusnya terbuat dari papan atau anyaman bambu diganti dengan material lain seperti semen atau bata.
“Rumah tradisional seperti rumah Joglo itu gedeknya dicopot kemudian diganti dengan bata, banyak yang runtuh karena strukturnya tidak cocok,” ungkap Iman.
Menurut dia, konstruksi kayu pada rumah Joglo memang difungsikan untuk material ringan seperti anyaman bambu. Sehingga ketika material tersebut dicopot dan diganti dengan beton atau bata, maka kayu yang ada tidak dapat menahan guncangan ketika gempa.
“Seperti gedek digoyang sepeti apapun tidak akan runtuh, berbeda dengan bata. Kalau bata digoyang sedikit saja mudah patah,” tambah dia.
Selain kayu, ada material bambu juga bisa digunakan. Bahkan Iman mengatakan bahan bambu yang baik jika diuji tarik kekuatannya bisa mendekati kekuatan baja.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.