Candi di Jawa Tengah, Bangunan Kokoh Tahan Gempa - Kompas.com

Candi di Jawa Tengah, Bangunan Kokoh Tahan Gempa

Kompas.com - 12/07/2018, 21:07 WIB
Warga melintasi komplek Candi Arjuna di Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Jumat (3/6/2011). Candi yang berada pada ketinggian 2.008 meter  tersebut merupakan salah satu situs candi Dieng yang ada mulai abad VIII hingga XII.KOMPAS / RADITYA MAHENDRA YASA Warga melintasi komplek Candi Arjuna di Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Jumat (3/6/2011). Candi yang berada pada ketinggian 2.008 meter tersebut merupakan salah satu situs candi Dieng yang ada mulai abad VIII hingga XII.

KOMPAS.com - Zaman Hindu-Buddha brperan penting dalam perkembangan budaya di wilayah Jawa, khususnya Jawa Tengah

Selain sebagai bangunan monumen, candi juga merupakan peninggalan kebudayaan dan teknologi mahir pada masa lampau.

Bangunan candi-candi di Jawa pada umumnya merupakan struktur batu bersusun yang memiliki ruang lantai terbatas.

Kesan kokoh terpancar dari struktur batu yang dibangun bersusun. Maka untuk menghilangkan kesan tersebut, dibuatlah relief-relief yang diukir di dinding candi.

Struktur batu bersusun tersebut kemudian memengaruhi bentuk-bentuk bangunan yang lain. Desain candi pun mulai berkembang sesuai dengan prinsip-prinsip desain arsitektur pada masa itu.

Awalnya bangunan suci atau candi dalam masyarakat Jawa kuno tidak didirikan dalam bentuk lengkap dengan dinding dan kubah.

Bangunan candi masih bersifat terbuka, dengan arca utama yang masih bisa terlihat dari luar. Seperti dikutip dari Harian Kompas, 28 Mei 2005.

Candi pada waktu itu hanyalah bangunan dasar berupa altar, yang pada permukaannya diletakkan benda-benda sakral seperti lingga, yoni, dan arca.

Pengelompokan

Umumnya, candi Jawa dikelompokkan menjadi dua, yakni candi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Candi-candi di Jawa Tengah oleh para arkeolog sering dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Utara dan Selatan.

Pada candi kelompok Utara, hampir semua candi berukuran kecil dan memiliki corak agama Hindu. Candi ini memiliki bentuk bangunan yang sederhana, dan nyaris tanpa hiasan.

Selain itu, candi Hindu di wilayah Utara dibangun secara berkelompok, berdidi sendiri, serta tidak beraturan tempatnya.

Sedangkan candi yang ada di Selatan, sebagian besar mendapat pengaruh agama Buddha, dengan bentuk bangunan yang sarat akan hiasan.

Candi di wilayah ini dibangun dalam kelompok dengan pola yang sama, yakni candi induk yang berada di tengah dan dikelilingi oleh barisan candi perwira.

Kabut di Candi Sukuh, lereng Gunung Lawu, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa TengahKOMPAS/LUSIANA INDRIASARI Kabut di Candi Sukuh, lereng Gunung Lawu, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah
Harian Kompas, 16 April 1989 menyebutkan, pembagian kelompok candi di Jawa Tengah ini juga didukung dengan data sejarah. Data-data ini didapatkan dari beberapa prasasti.

Beberapa arkelog berasumsi bahwa wilayah Utara dikuasai oleh dinasti Sanjaya, sedangkan wilayah Selatan merupakan daerah kekuasaan Wangsa Sailendra.

Pengecualian untuk candi Borobudur. Bangunan ini berada di perbatasan wilayah kekuasaan dinasti Sanjaya dan Syailendra.

Hal ini menyebabkan bangunan ini memiliki banyak corak. Apalagi jika ditilik dari sejarahnya, Borobudur sebenarnya dibangun sebagai tempat peribadatan umat Hindu.

Pada bangunan aslinya tampak adanya penggunaan perspektif untuk membenarkan pandangan mata. Efek ini lazim ditemukan pada candi-candi agama Hindu.

Jacques Dumarcay, ahli arsitektur dari Perancis bahkan berasumsi bahwa bangunan awal Candi Borobudur berbentuk limas berundak khas bangunan Hindu.

Barulah pada tahap perombakan kedua dilakukan perubahan menjadi bangunan suci agama Buddha.

Pemilihan tempat

Candi-candi di Jawa dibangun berdasarkan prinsip keteraturan. Biasanya, candi dibangun di tempat yang tinggi.

Hal ini didasarkan pada kepercayaan masyarakat pra-Hindu yang menganggap bahwa roh leluhur tinggal di gunung.

Candi-candi di Jawa Tengah sendiri dibangun menurut kontur geografisnya. Seperti candi Gedongsongo yang terdiri dari lima kelompok candi, dibangun menurut kontur lereng Gunung Ungaran.

Pembangunan ini meghasilkan jalur berbentuk tapal kuda pada ketinggian 1.300 meter. Masing-masing kelompok candi terdiri dari satu sampai tiga bangunan kecil yang konon dibangun pada abad ketujuh Masehi, seperti dikutip dari Harian Kompas, 8 Januari 2006.

Ketinggian dan ketersediaan air menjadi salah satu syarat utama pembangunan candi-candi penyembahan.

Kedekatan dengan sumber air menjadi keharusan, karena air merupakan salah satu elemen terpenting dalam sebuah upacara.

Petugas sedang membersihkan Candi Gedongsongo, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.KOMPAS.COM/SYAHRUL MUNIR Petugas sedang membersihkan Candi Gedongsongo, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Selain itu, candi juga sering dibangun menghadap ke Timur atau Barat. Pengaturan arah ini menunjukkan filosofi kelahiran dan kematian.

Pemilihan tempat dalam membangun candi juga mempertimbangkan gejala alam, seperti suhu, nuansa pagi dan malam, kabut, dan juga kawah gunung berapi.

Misalnya saja Candi Sukuh dan Candi Cetho, keduanya berada di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar.

Letaknya yang berada di ketinggian dengan jalan yang berkelok-kelok, akan membawa pengunjung naik dan menjadi lambang perjalanan spiritual serta tujuan manusia.

Tahan Gempa

Struktur candi di Jawa juga mengakomodasi kondisi alam di Indonesia yang beriklim tropis serta banyak gempa.

Batuan candi disusun tanpa perekat dengan menggunakan hukum gravitasi, yaitu sistem batu pengunci.

Keunggulannya adalah, karena sambungan pada setiap batu tidak solid, bangunan ini menjadi elastis dan tahan terhadap gempa.


Komentar
Close Ads X