Makna dan Nilai Filosofis Arsitektur Tradisional Bali

Kompas.com - 04/07/2018, 13:54 WIB
Dalam tradisi Bali terdapat suatu area serupa gazebo yang bernama Bale Bengong yang ditempatkan di samping atau belakang rumah. Sesuai namanya, area tersebut berfungsi sebagai tempat melepas lelah dan meringankan beban pikiran. Pengguna hanya perlu duduk di sana sambil menatap indahnya alam sekitar. www.houzz.comDalam tradisi Bali terdapat suatu area serupa gazebo yang bernama Bale Bengong yang ditempatkan di samping atau belakang rumah. Sesuai namanya, area tersebut berfungsi sebagai tempat melepas lelah dan meringankan beban pikiran. Pengguna hanya perlu duduk di sana sambil menatap indahnya alam sekitar.

KOMPAS.com - Keanekaragaman budaya di Indonesia khususnya arsitektur bangunan dapat menjadi modal berharga bagi dunia pariwisata jika mampu dikelola dengan baik.

Pada era modern, keberanian mengangkat nilai-nilai kearifan lokal seperti seni arsitektur tradisional dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.

Salah satunya adalah seni arsitektur Bali. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, Bhagawan Wiswakarma merupakan dewa para arsitek yang ditugaskan turun ke bumi untuk mengajarkan masyarakat Bali bagaimana membangun rumah dan lingkungannya.

Kini, arsitektur tradisional ini telah mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa Tengah pada abad ke-8, Jawa Timur pada abad ke-10 dan 11 dan pengaruh kebudayaan China serta Belanda.

Rumah-rumah tradisional Bali hingga kini masih mempertahankan ciri kearifan lokal. Salah satu contoh yang sampai saat ini masih dijaga adalah tidak boleh ada bangunan yang tingginya melebihi pohon kelapa.

Keserasian dengan alam

Harian Kompas, 16 Juli 1981 menyebutkan, hubungan yang erat antara manusia dengan alam, memang telah menjadi konsepsi perwujudan bangunan dengan Arsitektur Tradisional Bali.

Alam dan manusia dalam pandangan masyarakat Bali disebut sebagai Bhuwana Agung (Jagat Raya) dan Bhuwana Alit (Jagat Kecil).

Bhuwana Alit atau manusia dianggap memiliki unsur yang sama dengan Bhuwana Agung seperti alam. Oleh karena itu dalam konsep arsitektur Bali, harus ada kesesuaian antara bangunan, manusia penghuninya, dan alam lingkungan.

Secara filosofis, Bhuwana Agung dianggap memiliki tiga unsur yaitu Atma, Sarira, dan Tri Kaya. Persatuan ketiga unsur tersebut disebut Tri Hita Karana atau tiga hal yang menumbuhkan kebahagiaan.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X