Bisnis Properti Bali, Bergantung Keelokan Alam dan Kuatnya Tradisi - Kompas.com

Bisnis Properti Bali, Bergantung Keelokan Alam dan Kuatnya Tradisi

Kompas.com - 16/04/2018, 17:03 WIB
Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1940 di wilayah Desa Adat Tuban, Badung, Bali, Sabtu (17/3/2018). Pengamanan tersebut dilakukan untuk menjamin kelancaran umat Hindu yang menjalani catur brata penyepian atau tidak menggunakan api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan), tidak menikmati hiburan (amati lelanguan), dan tidak bekerja (amati karya) selama 24 jam.ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1940 di wilayah Desa Adat Tuban, Badung, Bali, Sabtu (17/3/2018). Pengamanan tersebut dilakukan untuk menjamin kelancaran umat Hindu yang menjalani catur brata penyepian atau tidak menggunakan api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan), tidak menikmati hiburan (amati lelanguan), dan tidak bekerja (amati karya) selama 24 jam.

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama alamnya yang elok lestari serta kekayaan tradisi terjaga dengan baik, selama itu pula bisnis properti di Bali tak akan mati.

Optimisme ini dilontarkan pebisnis properti sekaligus pemilik perusahaan Premier Hospitality Asia Gunawan Rahardjo, dan pengamat Andy Candra.

Baca juga : Bisnis Hotel di Bali Masih Menjanjikan

"Tanpa keduanya, Bali tak ubahnya kawasan lain. Bahkan mungkin akan mudah disaingi Lombok, Surabaya, atau Jakarta," kata Gunawan dalam perbincangan khusus dengan Kompas.com, di Jakarta, pekan lalu.

Oleh karena itu, menurut Gunawan, keberlanjutan bisnis properti di Pulau Dewata ini sangat bergantung pada willingness Pemerintah Provinsi dalam membuat kebijakan-kebijakan strategis.

Kebijakan strategis ini, Andy menambahkan, seharusnya dapat memengaruhi sekaligus meningkatkan aktivitas bisnis properti menjadi tumbuh lebih sehat, tanpa ada kesempatan atau peluang bagi terjadinya "perang tarif", atau pun tutupnya sejumlah properti, terutama terkait bisnis hospitalitas.

"Namun, saya yakin, pemerintahan sekarang lebih aware. Selain masalah infrastruktur, mereka juga bisa menelurkan kebijakan yang investment friendly," cetus Andy.

Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1940 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Sabtu (17/3/2018). Pengamanan tersebut dilakukan untuk menjamin kelancaran umat Hindu yang menjalani catur brata penyepian atau tidak menggunakan api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan), tidak menikmati hiburan (amati lelanguan), dan tidak bekerja (amati karya) selama 24 jam.ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1940 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Sabtu (17/3/2018). Pengamanan tersebut dilakukan untuk menjamin kelancaran umat Hindu yang menjalani catur brata penyepian atau tidak menggunakan api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan), tidak menikmati hiburan (amati lelanguan), dan tidak bekerja (amati karya) selama 24 jam.
Salah satu tradisi yang hingga kini tetap dijaga lestari adalah perayaan Nyepi atau Silence Day. Bagi wisatawan asing dan domestik, Nyepi adalah ajang menyelami denyut nadi Bali secara komprehensif, dan intim.

Kendati segala kesibukan terhenti saat Nyepi, namun justru di sinilah letak menariknya Bali. Pasalnya, momen sunyi dan tenang ini hanya dapat dijumpai sehari dalam setahun.

Anda tak akan mendengar suara raungan kendaraan-kendaraan bermotor yang biasanya menguasai jalanan maupun bisikan suara langkah pejalan kaki.

Sungguh berbeda dari suasana pagi hari biasanya, saat para pekerja maupun pelajar sudah mulai sibuk memulai hari mereka. Seperti itulah perayaan Hari Raya Nyepi dimulai.

Berbeda dengan tahun baru masehi yang biasa dirayakan dengan pesta pora nan megah, tahun baru Caka, yang dirayakan setiap dua belas sasih, atau siklus penuh bulan, diperingati dengan serangkaian ritual unik yang berlangsung selama enam hari berturut-turut, dengan Nyepi sebagai puncaknya.

Hari Raya Nyepi dimulai dari pukul 06.00 WIB pagi hingga 06.00 WIB pagi keesokan harinya.  Pada hari itu, seluruh Pulau Bali seolah ditutup, termasuk fasilitas bandar udara dan siaran televisi.

Ilustrasishutterstock Ilustrasi
Tidak diizinkan pula suara-suara gaduh dalam bentuk apapun. Demikian juga dengan sumber pencahayaan artifisial yang biasa mendominasi langit malam.

Hal ini sungguh unik jika dilihat dari sudut pandang orang kebanyakan; pulau yang sebagian besar pendapatannya diperoleh dari area pariwisata menutup dirinya untuk sehari penuh.

Akan tetapi, apabila kita bisa mengenyampingkan segala bias pandangan terhadap hal tersebut, Nyepi memiliki tujuan dan berbagai manfaat yang dapat dilihat dan dirasakan oleh seluruh penduduk Bali tanpa terkecuali.

Walau umat non-Hindu tidak ikut berpartisipasi dalam ritual, mereka turut menghormati perayaan ini dan menerima timbal balik atas kesantunan ini. Banyak manfaat yang dapat diraih oleh wisatawan dalam kesunyian.

Warga Bali menjalani ritual Melasti di Pantai Padanggalak Robinson Gamar Warga Bali menjalani ritual Melasti di Pantai Padanggalak
Pada hari tersebut, mereka dapat beristirahat dan tidak terganggu oleh kebisingan dunia luar. Alhasil, pribadi mereka dapat menjadi lebih tenang dengan ketidakberadaannya beberapa sisi negatif dari teknologi. 

Lebih dari sekedar hari untuk merenung dan bermeditasi, Nyepi adalah saat bagi alam untuk beristirahat dan mengambil napas dari dampak kesibukkan manusia yang cenderung bersifat merusak.

"Inilah sebuah contoh pengaplikasian peribahasa new year, new me yang ikut memberi dampak baik kepada alam," kata Andy.

Nyepi adalah suatu bentuk apresiasi rakyat Bali terhadap alam. Tanpa mengenyampingkan tujuan religius dan personal, Nyepi pada dasarnya ditujukan untuk membuat dan menjaga keseimbangan dan keharmonisan hubungan alam dengan manusia yang bergantung padanya.

Budaya tersebut mengajarkan dan menanamkan kepercayaan akan pentingnya melestarikan alam dan menjaga kelangsungan persekutuan antara alam dan manusia.

Pandangan rakyat Bali perihal kelestarian alam juga tercermin dalam berbagai peraturan yang membatasi penggunaan tanah, seperti larangan untuk membangun gedung yang terlalu tinggi.

“Alam Bali dianggap sakral, sehingga tidak boleh dipergunakan secara sembarangan,” ujar Andy.

Wisman di Gianyar, Bali.KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Wisman di Gianyar, Bali.
Peraturan seperti larangan untuk bangunan pencakar langit diadakan untuk menjaga keberlanjutan alam agar nantinya dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang.

Namun, Andy mengusulkan, apabila dibutuhkan untuk kepentingan ekonomi, tanah Bali sebaiknya disewakan ketimbang dijual, agar tidak terjadi praktik semena-mena dan alih fungsi lahan dalam penggunaannya.

"Kurun tahun 2000 awal, terjadi konversi lahan persawahan yang demikian masif. Karena itu, Pemerintah Provinsi Bali harus memperketat izin bagi mereka yang ingin membangun properti," tambah Andy.

Karena itu, kata dia, sudah selayaknya pebisnis properti yang ingin membuka usaha di Bali menumbuhkan rasa apresiasi, rasa hormat, dan kesadaran akan peraturan ini.

Pasalnya, jika Bali sudah kehilangan keunikan alam, dan tradisi, tidak akan ada lagi yang bisa kita banggakan untuk bisa bersaing dengan destinasi serupa di luar negeri.

 

Belinda Candra


Komentar
Close Ads X