Kompas.com - 09/04/2018, 21:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah lebih dari satu dekade menggeluti segmen pengelolaan hotel dan vila kelas mewah, Premier Hospitality Asia mulai merambah bisnis baru, yakni marketing atau pemasaran hotel dan vila.

Pasar ini, menurut Presiden Komisaris Premier Hospitality Asia Gunawan Rahardjo demikian besar, terutama di kawasan-kawasan pariwisata dengan pasokan hotel dan vila melimpah seperti Bali.

Baca juga : Bisnis Hotel di Bali Masih Menjanjikan

"Pasar ini sangat potensial dan luar biasa besar. Sebab, tidak semua hotel yang beroperasi di tempat-tempat wisata, khususnya Bali, dikelola secara baik dan profesional," ujar Gunawan dalam perbincangan khusus dengan Kompas.com, di Jakarta, Senin (9/4/2018). 

Pengelolaan yang baik dan profesional dimaksud Gunawan adalah mencapai target marketing sales, termasuk networking dalam basis data tamu, revenue yang berkesinambungan, transparansi keuangan, dan fee pengelolaan yang masuk akal (reasonable). 

Di Bali, kendati bertebaran merek dari rantai operator internasional beken, tak selalu berbanding linear dengan tiga aspek di atas yang tentu saja sangat diharapkan oleh pemilik atau investor hotel.

K Villas Holiday, Seminyak, Bali.Dokumentasi Premier K Villas Holiday, Seminyak, Bali.
Banyak pemilik yang merasa kecewa, untuk kemudian memutuskan kerja sama pengelolaan dengan brand tersebut. Ini banyak terjadi di Bali. Nama besar tak sesuai dengan ekspektasi.

Baca juga : Tekanan Berlanjut, Hotel Bintang 3 di Bali Makin Menyusut

"Penjualan kamar atau vila sangat rendah, dengan tingkat okupansi tak melebihi 50 persen serta fee pengelolaan yang terlalu tinggi (mahal)," tambah Gunawan.

Padahal, secara umum pasar pariwisata Bali masih yang terbaik di dunia. Ini dibuktikan dengan penghargaan Trip Advisor Traveler's Choice Awards 2017.

Dengan keunikan dan kekhasan budaya, alam, atraksi, dan secara komunal masyarakat pariwisatanya sudah terbentuk, membuat Bali tetap istimewa dan belum ada duanya.

Tingkat okupansi pun boleh dibilang sangat positif kendati belum pulih seratus persen seperti pada medio 2012-2015.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.