Gedung Bersejarah Wiperti Bakal Dibongkar - Kompas.com

Gedung Bersejarah Wiperti Bakal Dibongkar

Kompas.com - 22/01/2018, 21:02 WIB
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ahmad Djuhara dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono usai pengesahan UU Arsitek di DPR RI, Arimbi Ramadhiani Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ahmad Djuhara dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono usai pengesahan UU Arsitek di DPR RI,

JAKARTA, KOMPAS.com - Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) tengah berupaya menyelamatkan sebuah gedung penting dari rencana pembongkaran yakni Gedung Wiperti di Jl. Medan Merdeka Timur.

Gedung Wiperti saat ini dikelola oleh Patra Jasa dan diketahui bakal dibongkar seluruhnya yang kemungkinan didirikan bangunan baru.

"Karena tidak termasuk dalam daftar BCB DKI Jakarta maupun Nasional, maka pembongkaran Bangunan Gedung Wiperti memang tidak melanggar UU Cagar Budaya atau UU lainnya," ujar Ketua IAI Ahmad Djuhara kepada Kompas.com, Senin (22/1/2018).

Gedung ini pada awalnya dimiliki Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) yakni perusahaan minyak Belanda pada 1950-an.

Kemudian, kepemilikan berpindah ke Shell pada 1960-an dan sempat menjadi hotel untuk acara Ganefo pada 1963.

Akhirnya, pada 1973, gedung tersebut menjadi milik Pertamina. Sementara arsiteknya besar kemungkinan adalah orang Belanda atau Indonesia generasi awal kemerdekaan.

"Sekarang ini sedang dilakukan proses penggambaran kembali secara arsitektur bangunan Gedung Wiperti tersebut oleh Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) agar minimal data arsitekturnya terekam baik," jelas Djuhara.

Ia menambahkan, proses penggambaran ini penting untuk menunjukkan bahwa Gedung Wiperti memang vital bagi koleksi arsitektur Indonesia.

IAI yang menjalankan amanat profesi sebagai penjaga profesi arsitek dan arsitektur Indonesia berpendapat bahwa bangunan ini tetap mempunyai peran penting dalam sejarah arsitektur Indonesia.

Peran penting ini, menurut Djuhara, adalah sebagai penanda sebuah zaman yaitu awal arsitektur modern Indonesia, mewakili Arsitektur Jengki Indonesia.

"Kehilangan bangunan ini berarti kita kehilangan sebuah jejak sejarah Arsitektur Indonesia yang penting," sebut Djuhara.

Dengan memahami prinsip pengelolaan manajemen aset properti dari sebuah korporat, imbuh dia, IAI memahami bahwa seyogyanya aset apapun harus menjadi profit center, bukan hanya menjadi beban dan cost center.

IAI mengusulkan, penyelenggaraan sayembara revitalisasi bangunan Gedung Wiperti dilakukan sekaligus dengan perencanaan bisnisnya.

Tujuannya, agar bisa dibuktikan bahwa dengan mengonservasi bangunan itu akan jauh lebih menguntungkan secara finansial.

Tidak hanya itu, sayembara desain arsitektur juga harus terintegrasi dengan usulan fungsi-fungsi baru yang dapat membawa keuntungan finansial.

Terlebih lagi, lanjut Djuhara, sayembara ini akan membuka kemungkinan ide sumber-sumber keuangan yang bakal membantu.

"Kami memohon kepada pihak-pihak yang berwenang berkenaan Gedung Wiperti ini agar dapat menghentikan sementara proses pembongkaran gedung tersebut dan bersedia membicarakan kemungkinan yang lebih baik dengan IAI," tuntas Djuhara.


EditorHilda B Alexander

Close Ads X