Bos Properti Sulap Rumahnya di Bandung Jadi "Rabbit Town" - Kompas.com

Bos Properti Sulap Rumahnya di Bandung Jadi "Rabbit Town"

Kompas.com - 09/01/2018, 08:00 WIB
Kandang monyet di Rabbit Town, BandungArimbi Ramadhiani Kandang monyet di Rabbit Town, Bandung

BANDUNG, KompasProperti - CEO dan Chairman Kagum Group Henry Husada, mulai melirik sektor pariwisata untuk pengembangan lini usahanya.

Bukan perhotelan seperti yang sudah dijalani selama ini, melainkan sebuah destinasi wisata yang menggabungkan kuliner, fashion, dan kebun binatang.

Sebagai proyek pertama destinasi baru di Bandung, Henry pun mengorbankan salah satu rumahnya.

Terletak di Cibeunying Kidul, rumahnya ini dirancang seluas total 2 hektar dengan hampir 30 ruangan.

"Saya mau ciptakan sesuatu yang lain, karena kalau biasa-biasa saja orang cukup lihat di internet. Saya ingin kalau pengunjung datang, suasananya berbeda jadi beri kepuasan yang lain," ujar Henry kepada wartawan, Senin (8/1/2018).

CEO Kagum Group Henry Husada (tengah) berfoto saat konferensi pers apartemen Grand Asia Afrika Residence, Bandung, Senin (8/1/2018).Arimbi Ramadhiani CEO Kagum Group Henry Husada (tengah) berfoto saat konferensi pers apartemen Grand Asia Afrika Residence, Bandung, Senin (8/1/2018).
Destinasi wisata ini, lanjut dia, bernama Rabbit Town. Dengan ikon kelinci, pengunjung akan disuguhi berbagai macam ukuran patung hewan bertelinga panjang tersebut.

Nantinya, Henry juga akan menempatkan kelinci-kelinci peliharaannya yang dikoleksi dari 17 negara ke Rabbit Town.

Secara pribadi, Henry memang menyukai binatang yang berjalan dengan cara melompat tersebut karena dalam zodiak China, karakternya dilambangkan oleh kelinci.

Meski demikian, tidak hanya kelinci yang akan ia datangkan ke Rabbit Town. Selain itu, Henry mengaku juga memelihara sejumlah hewan, antara lain ikan arwana yang jumlahnya mencapai 168 ekor.

Patung kelinci di Rabbit TownArimbi Ramadhiani Patung kelinci di Rabbit Town
Untuk menempatkan ikan arwana di Rabbit Town, Henry telah menyiapkan sebuah akuarium raksasa.

"Memelihara ikan arwana itu, percaya tidak percaya akan mendatangkan kebahagiaan, kesehatan dan rezeki. Maka saya ingin orang-orang juga bisa menikmati di sini," jelas dia.

Adapun di Rabbit Town ini, kata Henry, pengunjung bisa berwisata kuliner, berbelanja pakaian, berinteraksi dengan binatang, serta tentu saja melakukan swafoto.

Setiap jengkal di rumahnya ini, telah didesain sedemikian rupa agar menarik menjadi objek atau hanya sebagai latar belakang foto.

Rumah terlalu besar

Henry mengaku, rumah tersebut sebelumnya hanya ditempati oleh 7 orang anggota keluarganya, yakni Henry sendiri, istri, 4 anak, dan ibunya.

Sementara untuk mengurus rumah, Henru mempekerjakan sampai 20 orang sebagai asisten rumah tangga (ART).

"Saking besarnya (rumah ini), saya sampai kasih masing-masing satu alat komunikasi, seperti HT begitu," tutur Henry.

Pekerjaa di destinasi wisata Rabbit Town. Gambar diambil Senin (8/1/2018).Arimbi Ramadhiani Pekerjaa di destinasi wisata Rabbit Town. Gambar diambil Senin (8/1/2018).
Berdasarkan filsafat China kuno, Yin dan Yang, rumah tersebut tidak baik untuk ditinggali karena terlalu besar.

Dengan demikian, ia pun memutuskan untuk mengalihfungsikan rumahnya sebagai fasilitas komersial.

Sebelum diputuskan menjadi destinasi wisata, Henry sempat berpikir untuk mengubahnya sebagai penginapan atau hotel.

Meski demikian, ia pun berpikir ulang akan hal tersebut mengingat bisnis perhotelan di Bandung kurang baik.

"Saya akan fokus di wisata, karena sekarang hotel sedang kebanyakan suplai daripada demannya," sebut dia.


EditorHilda B Alexander

Close Ads X