"Proyek LRT, Proyek Gila"

Kompas.com - 26/10/2017, 23:00 WIB
Stasiun Jakabaring yang menjadi salah satu stasiun pada proyek Light Rail Transit (LRT) Palembang, Kamis  (26/10/2017). Kompas.com / Dani PrabowoStasiun Jakabaring yang menjadi salah satu stasiun pada proyek Light Rail Transit (LRT) Palembang, Kamis (26/10/2017).
Penulis Dani Prabowo
|
EditorHilda B Alexander

PALEMBANG, KompasProperti - Secara keseluruhan, progres struktur proyek light rail transit ( LRT) Palembang, Sumatera Selatan, baru berjalan 68,05 persen. Padahal, proyek yang digarap sejak Oktober 2015 lalu itu, ditargetkan rampung Juni 2018.

Kepala Proyek Utama LRT Palembang Mas'udi Jauhari mengungkapkan, tidak banyak kontraktor yang berani bekerja sama dalam menggarap proyek ini. Khususnya, dalam hal pemasangan rel.

Baca juga : Ditargetkan Rampung 2018, Progres LRT Palembang Baru 68,05 Persen

Berdasarkan time schedule, tenggat waktu yang diberikan untuk memasang sambungan rel hanya delapan bulan terhitung sejak Juli 2017. Itu artinya, batas waktu maksimum pemasangan rel hingga rampung hanya sampai Februari 2018.

"Proyek ini (LRT), proyek yang gila. Tidak ada kontraktor asing yang berani pasang rel di bawah satu tahun," kata Mas'udi kepada KompasProperti, di Palembang, Kamis (26/10/2017).

Mas'udi mengaku, pernah menawarkan tender proyek pemasangan rel ini kepada sejumlah kontraktor luar negeri. Namun, hanya kontraktor asal negeri Tirai Bambu, China Harbour, yang berani memberikan jaminan dapat menyelesaikan tugas pemasangan rel itu dalam kurun waktu di bawah setahun.

"Kenapa pilih China? Karena dia yang paling berpengalaman. Kami melihat dia kerja di Malaysia. Malaysia yang terbaru dikerjakan oleh China," ujarnya.

Untuk mengejar target waktu, konstruksi rel yang tadinya hanya digarap lima kelompok, kini dikerjakan oleh sepuluh kelompok. Dari lintasan sepanjang 23,4 kilometer, itu artinya panjang rel yang diperlukan untuk dua perlintasan kereta api sepanjang 46,8 kilometer.

"Sekarang pemasangan rel sudah 13 kilometer," sebut Mas'udi.

Kendati pekerjaan rel dikebut, Mas'udi memastikan, keamanannya tetap terjaga. Ada standar keamanan yang harus dipenuhi dalam mengerjakan rel ini. Demikian pula dari sisi teknologi yang tingkat toleransinya telah ditentukan.

"Sampai saat ini, hasilnya cukup bagus. Bahkan kemarin ada dari KAI studi ke sini menggandeng Singapore MRT, dia juga lihat hasilnya. Dia (KAI) cukup kaget juga. Ya, lumayan bagus lah," tuntas dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X