Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kalah dari Malaysia, Indonesia Turun ke Peringkat 8 Dunia

Kompas.com, 12 Juli 2017, 20:42 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KompasProperti - Tak keliru bila pengamat ritel Andreas Kartawinata mengatakan bisnis ritel Indonesia sedang tertekan. Bukan hanya menurunnya daya beli dan spending power yang berkurang, namun juga ketatnya persaingan antar-peritel.

"Banyak gerai-gerai yang tutup terutama fashion. Sebut saja satu di antaranya Debenhams di Kemang Village," kata Andreas kepada KompasProperti, Rabu (12/7/2017).

Baca: Bisnis Ritel Tertekan

Tertekannya pasar ritel yang sejatinya telah dimulai pada semester kedua tahun 2016 lalu, berdampak pada posisi Indonesia di Global Retail Development Index 2017 keluaran AT Kearney.

Lembaga dunia ini menempatkan Indonesia di peringkat 8 dunia, jauh di bawah Malaysia dengan poin 55,9. Posisi ini melorot 3 level dibanding pencapaian tahun lalu yang masuk dalam lima teratas dunia.

Baca: Indonesia Kalahkan Pasar Ritel Singapura

AT Kearney melakukan pemeringkatan ini berdasarkan pada empat variabel utama yakni attractiveness sebesar 25 persen, country risk (25 persen), market saturation (25 persen), dan time pressure (25 persen). 

Untuk variabel attractiveness, poin Indonesia hanya 49,3. Kalah dari Malaysia sebagai sesama negara Asia Tenggara yang berada di posisi ketiga dengan 77,1. 

Sedangkan untuk variabel country risk, Indonesia juga dipecundangi negeri jiran itu dengan poin 45.5.

Kemudian variabel market saturation, poin Indonesia lebih tinggi yakni 52,1, sementara Malaysia 23,3. Variabel terakhir yakni time pressure, Indonesia meraup nilai 76,7. 

AT Kearney juga mencatat Indonesia dengan penduduk 259 juta dan paritas daya beli terhadap pendapatan per kapita sekitar 11.699 dollar AS, meraup penjualan total ritel senilai 350 miliar dollar AS.

Tak hanya kalah dari Malaysia, Indonesia juga berada di bawah peringkat Maroko yang menempati posisi 7, Vietnam (6), Uni Emirat Arab (5), dan Turki (4).

Sementara China bertengger di atas Malaysia yakni di posisi ke-2, dan India tampil sebagai pemuncak dengan poin 71,7.

Menarik peritel asing

Kendati sulit dipahami, negara terpadat di Asia Tenggara ini terus menjadi sasaran, dan menarik minat peritel asing. Hal ini karena adanya liberalisasi investasi, dan pembangunan infrastruktur.

Ilustrasi. shutterstock Ilustrasi.
Reformasi besar yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2016 memungkinkan investor asing untuk memiliki saham mayoritas di department store dan mengizinkan kepemilikan penuh atas perusahaan e-commerce.

Langkah-langkah ini dibantu oleh investasi berkelanjutan di bidang infrastruktur, terutama pilihan transportasi laut dan darat untuk memacu pertumbuhan dan menawarkan akses ke daerah-daerah yang kurang penduduknya.

Ada pun peritel internasional yang telah masuk dan memperluas ekspansi di pasar ritel Indonesia adalah  LC Waikiki (Turki), Central Group (Thailand), Lotte Group (Korea Selatan), dan Aeon (Jepang).

Peritel kesehatan dan kecantikan juga tak kalah antusias. Operator ritel multiformat lokal, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) meluncurkan konsep kesehatan dan kecantikan baru, Boston Combo, di pusat perbelanjaan Pluit Village di Jakarta Utara pada tahun 2016.

Toko ini menawarkan pilihan lengkap produk kesehatan dan kecantikan serta layanan seperti pewarnaan rambut.

Selain mereka, perusahaan e-commerce global juga masuk pasar yang secara tradisional didominasi oleh pemain domestik.

Di antaranya adalah Alibaba yang mengakuisisi Lazada senilai 1 miliar dollar AS. Sebelumnya, eBay membuka kantor pertamanya di Indonesia, membangun usaha patungan dengan TelkomMetra.

Ilustrasi.www.shutterstock.com Ilustrasi.
"Namun, kabar dari bisnis ritel ini tidak semuanya positif," kata AT Kearney.

PT Modern Internasional, operator toko swalayan 7-Eleven melaporkan penurunan penjualan dan menutup 25 gerai nasional, terutama karena larangan minum alkohol di minimarket.

Meski menarik, AT Kearney memperingatkan peritel asing yang mempertimbangkan masuk pasar Indonesia harus waspada terhadap potensi krisis ekonomi pada tahun-tahun mendatang.

Inflasi diperkirakan akan meningkat menjadi 4,5 persen pada akhir 2017 dari 3,2 persen pada tahun sebelumnya.

"Giro dan defisit fiskal membuat Rupiah juga rentan terhadap goncangan negatif di pasar modal global, yang mungkin melemahkan daya beli, terutama di kalangan konsumen berpenghasilan rendah," tutup AT Kearney.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau