Yusa Cahya Permana
Perencana Transportasi

Perencana transportasi lulusan Departemen Teknik Lingkungan dan Sipil, Universitas Gajah Mada (UGM) dan Institute for Transport Studies, University of Leeds, Inggris. Saat ini bekerja sebagai program manager pada Yayasan Nusapatris Infrastruktur. Sebelumnya pernah terlibat dalam berbagai kajian proyek besar terkait infrastruktur transportasi.

 

TOD, Tantangan Memadukan Bisnis Properti dan Transportasi Umum

Kompas.com - 05/06/2017, 06:00 WIB
Suasana di dalam KRL commuter line relasi Bekasi-Jakarta Kota PP yang dialihkan rutenya melalui jalur Stasiun Pasar Senen, Senin (3/4/2017) KOMPAS.com/Alsadad RudiSuasana di dalam KRL commuter line relasi Bekasi-Jakarta Kota PP yang dialihkan rutenya melalui jalur Stasiun Pasar Senen, Senin (3/4/2017)
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorHilda B Alexander

Akibatnya, transportasi umum cenderung diposisikan seperti anak tiri dalam setiap pengembangan kawasan properti. Bisa dibandingkan selama ini besarnya usaha, investasi dan biaya perawatan yang dikeluarkan perusahaan properti dalam mendapatkan akses jalan raya maupun jalan tol apabila dibandingkan dengan pengelluaran mereka untuk mendukung transportasi umum.

Sementara, posisi pemerintah yang dapat dikatakan baru mulai serius menangani angkutan umum, menghadapi banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar masyarakat kembali tertarik menggunakan angkutan umum.

Permasalahan kelayakan kendaraan, kualitas layanan, kepastian jadwal, keamanan dan prioritasi angkutan umum hanya beberapa dari sekian banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Keseriusan

Kunci keberhasilan pengembangan dan penerapan TOD sesungguhnya terletak pada keseriusan dan kesediaan para pemangku kepentingan. Pengembang, pemerintah maupun dunia transportasi harus duduk bersama dan setara dalam sebuah kerangka kerja sama usaha yang didasarkan pada kesadaran saling membutuhkan dan dapat saling menguntungkan.

Dari sisi pengembang diperlukan adanya kesadaran dan kesediaan untuk memposisikan angkutan umum dalam level yang setara. Bahwa angkutan umum, ternyata, dapat meningkatkan nilai properti dengan adanya peningkatan aksesibilitas kawasan pengembangan dari kawasan luar.

Hal ini penting untuk menghilangkan permasalahan free rider yang banyak terjadi di mana pengembangan properti mendadak mendapatkan “nilai tambah” dari akses angkutan umum yang dibangun dengan investasi besar tanpa mereka ikut andil secara signifikan dalam pengembangan dan pengoperasian.

Kebiasaan free rider ini mungkin menguntungkan pengembang properti namun berpotensi merugikan operator transportasi yang tidak dapat menggunakan kesempatan kerja sama yang ada untuk mengembangkan lini usaha mereka.

Selain itu, dari segi tata guna lahan dan peataan kawasan, kebiasaan free rider ini berpotensi menimbulkan ketidakcocokan dan ketidaksinkronan realisasi pengembangan kawasan dengan perencanaan yang ada.

Di sisi lain dunia transportasi juga harus mulai menyadari pentingnya meletakkan standar dan secara konsisten menjaga penerapan kualitas tersebut agar masyarakat bersedia berpindah moda dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.