Pemerintah Gandeng UNESCO dan IAI Gelar Lokakarya Cagar Budaya

Kompas.com - 18/01/2016, 12:58 WIB
Pelatihan pelestarian cagar budaya di Jakarta, Senin (18/1/2016). Pelatihan pelestarian cagar budaya di Jakarta, Senin (18/1/2016).
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Bekerja sama dengan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), pemerintah menggelar lokakarya pelestarian cagar budaya di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (18/1/2016).

Acara ini dilaksanakan selama enam hari mulai hari ini, hingga Sabtu (23/1/2016). Pemerintah diwakili oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Direktur Bina Penataan Bangunan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Adjar Prayudi mengatakan, lokakarya bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengetahuan dan prinsip-prinsip pelestarian bangunan bersejarah.

"Melalui acara ini, saya berharap para peserta bisa belajar dan berbagi pengetahuan terhadap praktik terbaik pelestarian cagar budaya," ujar Adjar saat acara bertajuk "Revitalizing Indonesia Heritage Districts".

Ia menambahkan, para peserta bisa berbagi informasi dengan narasumber ahlinya yang selain dari UNESCO dan IAI, tetapi juga dari AusHeritage.

Melalui kegiatan ini, peserta juga bisa mengetahui dan melaksanakan pedoman teknis untuk menetapkan cagar budaya mana yang boleh diubah dan tidak.

Menurut Adjar, pedoman ini perlu dibahas supaya masyarakat secara luas bisa mengetahui bagian-bagian cagar budaya mana yang bisa disentuh dan tidak. Lebih lanjut, pedoman ini juga menentukan bagian mana dari cagar budaya yang perlu direvitalisasi dan diperbaiki.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada prinsipnya, untuk memperbaiki cagar budaya harus dilakukan seminimal mungkin dengan hasil maksimal sehingga tidak banyak perubahan yang merusak. 

"Harapan kami setelah pelatihan ini, kabupaten/kota yang masuk program Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP), bisa menularkan pengetahuan di daerahnya," jelas Adjar.

Menurut dia, penularan pengetahuan ini penting supaya masalah pelestarian aset berupa bangunan bisa disiati dan dikembangkan melalui program P3KP dengan baik.

Selain melalui lokakarya, dalam menyosialisasi program ini, Kementerian PUPR juga menempatkan tim dari pusat untuk menangani masalah-masalah budaya di daerah.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X