Kompas.com - 03/11/2015, 07:28 WIB
Aktivitas pekerja di proyek pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (Mass Rapid Transit/MRT) di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (29/10). Saat ini pengeboran telah mencapai jarak sekitar 120 meter menuju stasiun Senayan. KOMPAS/PRIYOMBODOAktivitas pekerja di proyek pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (Mass Rapid Transit/MRT) di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (29/10). Saat ini pengeboran telah mencapai jarak sekitar 120 meter menuju stasiun Senayan.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono kecewa terhadap pengerjaan konstruksi Indonesia yang kurang memperhatikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Basuki menilai, jika K3 tidak diperhatikan, maka produktivitas bisa terganggu. Produktivitas yang kurang bukan hanya disebabkan kemampuan pekerja kurang, tapi juga karena lingkungannya. Untuk itu, Basuki menegaskan akan memperketat standar K3.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya mengumpulkan semua pelaksana jasa konstruksi, kepala balai, satuan kerja (satuan kerja). Kami sepakat untuk melaksanakan dan mengerjakan K3 paling tidak pada 2016, di lingkungan PUPR," ujar Basuki di Balai Pelatihan Konstruksi dan Peralatan, Jakarta, Senin (2/11/2015).

Dia menjelaskan, beberapa saat yang lalu sempat mengunjungi proyek pengendalian banjir di tengah kota Padang, Sumatera Barat. Basuki mengaku kecewa karena pekerjaannya berantakan dan mengakibatkan jalan tertutup.

Efek selanjutnya karena jalan tertutup ini, kemacetan pun tidak bisa dihindari. Aktivitas kota ikut terganggu. Hal ini membuktikan bahwa K3 belum dilaksanakan dengan baik.

"Kita harus sadar betul dengan lingkungan. Proyek sampai menutup jalan di tengah kota itu berarti lingkungannya tidak diperhatikan," jelas Basuki.

Sementara di Jakarta, lanjut dia, ada contoh proyek yang baik karena sudah menerapkan K3 sesuai standar. Proyek tersebut adalah proyek kerjasama dengan Jepang, yakni pengerjaan sudetan Ciliwung dan mass rapid transit (MRT).

Menurut Basuki, pekerja Indonesia tidak perlu malu mencontoh proyek tersebut meski hasil kerjasama dengan Jepang. Lagipula, kata dia, pelaksananya pun dari Indonesia dan penyedia jasanya sama meski perusahaannya merupakan gabungan dengan Jepang.

Namun begitu, Basuki menekankan, bukan berarti Jepang lebih disiplin dari Indonesia. Pengerjaan dua proyek ini baik karena diawasi langsung dari Tokyo.

"Kuncinya itu di pengawasan. Karena orang cenderung ingin melanggar di manapun itu. Di Amerika juga seperti itu. Maka, pengawasan harus dilakukan dengan konsisten," tegas Basuki.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.