Kompas.com - 27/08/2015, 07:35 WIB
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Properti mempunyai daya untuk menggerakkan ekonomi suatu bangsa. Demikian halnya saat nilai tukar mata uang Rupiah yang terus merosot terhadap dollar AS, sektor properti menjadi yang paling memegang peran vital. Namun, seberapa besar daya gerak itu?

Chairman Lippo Group, Mochtar Riady, mendeskripsikan besarnya pengaruh sektor properti terhadap perekonomian negara adalah tatkala raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat, limbung pada 2008 karena sektor propertinya mengalami kesulitan.

Tak cukup memberi contoh negara Paman Sam, Mochtar pun mengambil satu nama besar lainnya yakni Tiongkok. Negara Tirai Bambu ini, mengalami kesulitan serius saat sektor propertinya dalam kondisi over supply, dan over capacity.

Ledakan propertinya tak terbendung yang didorong tingginya grosss domestic product (GDP) dengan nilai 10.000 dollar AS per kapita. Tingginya pendapatan masyarakat Tiongkok ini kemudian menstimulasi munculnya investor-investor dengan motif spekulasi yang mengharapkan keuntungan besar dari harga properti yang naik gila-gilaan. 


worldpropertychannel Salah satu "kota mati" di Tiongkok, Zhengzou yang ditinggalkan para penghuni.
Hal ini mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan antara pasokan, dan permintaan properti. Sehingga memaksa pemerintahnya melakukan berbagai kebijakan, dan langkah pendinginan (cooling measurement).

Langkah pendinginan tersebut memang mampu mengerem terjadinya gelembung (bubble) properti di satu sisi, namun di sisi lain pertumbuhan ekonomi Tiongkok langsung merosot menjadi 7 persen, dari sebelumnya 10 persen. Akibatnya, permintaan komoditas pun ikut anjlok.

"Di Indonesia sendiri, sektor propertinya mendorong pergerakan 150 industri. Ekonomi negara bergantung pada properti karena menyangkut begitu banyak industri," tutur Mochtar saat memberikan kata sambutan dalam penganugerahan Golden Property Awards di Raffles Hotel, Jakarta, Rabu malam (26/8/2015).

Jadi, lanjut Mochtar, seharusnya pengusaha properti (pengembang) jangan diperas. Sebaliknya, pemerintah perlu mendorong pertumbuhan industri properti dengan mengurangi pajak, dan memberikan insentif lebih banyak agar perekonomian dan industri properti mengalami pertumbuhan positif. 


www.shutterstock.com Ilustrasi.
"The world is flat"

Mochtar mengibaratkan konstelasi ekonomi dunia saat ini yang diwarnai gonjang-ganjing nilai tukar mata uang, dalam frasa the world is flat. Seluruh negara saling ketergantungan satu sama lain, tidak bisa berdiri sendiri atau stand alone

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.