Kompas.com - 21/04/2015, 10:00 WIB
Pengunjung memilih batu akik yang saat ini sedang booming di Jakarta Gems Center, Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta, Kamis (15/1/2015). Lebih dari 1.000 pedagang batu akik menawarkan dagangannya di tempat tersebut dengan harga mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah. Batu bacan yang berasal dari Ternate, Maluku Utara, saat ini banyak dicari para pencinta batu akik.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOPengunjung memilih batu akik yang saat ini sedang booming di Jakarta Gems Center, Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta, Kamis (15/1/2015). Lebih dari 1.000 pedagang batu akik menawarkan dagangannya di tempat tersebut dengan harga mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah. Batu bacan yang berasal dari Ternate, Maluku Utara, saat ini banyak dicari para pencinta batu akik.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Popularitas batu akik atau istilah kerennya great stone, memuncak saat Hutomo Mandala Putera alias Tommy Soeharto, menggelar acara Gala Dinner dengan penggemar batu akik di Balai Panjang Museum Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (18/4/2015). 

Pembina Asosiasi Great Stone Nusantara (GSN) itu menilai batu akik memiliki pangsa pasar yang sangat potensial. Menurut dia, andai 40 persen penduduk Indonesia yang berminat berkecimpung pada dunia batu akik, maka akan ada uang sebesar Rp 20 triliun yang berputar setiap tahunnya. 

Tommy menjelaskan, perhitungan tersebut didapat hanya dari hasil penjualan batu akik dengan harga yang paling murah, yakni Rp 250.000 dan belum memperhitungkan batu-batu akik dengan harga yang mencapai ratusan juta. 

"Jumlah penduduk Indonesia ada 250 juta. Andai ada 40 persen saja, artinya ada 100 juta orang, tiap satu orang setiap tahunnya cukup membeli satu batu, baik cincin atau bros, tidak perlu muluk-muluk cukup yang Rp 200.000, maka akan ada uang Rp 20 triliun yang berputar setiap tahunnya di industri ini," kata Tommy.

Namun, jika harus dihadapkan pada dua opsi, antara investasi pada batu akik atau properti (rumah), pamor batu akik justru melorot. Sepuluh dari 20 orang dengan beragam latar belakang berbeda yang disurvei Kompas.com melalui media sosial, pesan pendek, dan sambungan telepon, lebih memilih membeli rumah dulu, baru kemudian batu akik. Lima orang lainnya memilih batu akik dengan alasan sedang menjadi tren, selebihnya memilih dua-duanya.

Seorang karyawan yang bekerja di Jakarta namun berdomisili di Cikarang, Ihsan Abidin serius memilih rumah ketimbang batu akik. Meski untuk itu dia harus menabung, dan membayar cicilan per bulan untuk mendapatkan rumah yang diidamkan.

Demikian halnya Muh MW, pengusaha asal Balikpapan yang berbasis di Bali ini mengatakan batu akik hanya musiman, sementara rumah adalah investasi jangka panjang.

"Kalau musimnya sudah habis, batu akik tidak bisa di-apa-apain lagi," tutur Muh MW dalam komentarnya yang disampaikan kepada Kompas.com, Senin (20/4/2015).

Lain lagi Agung Nugroho, arsitek jebolan Universitas Muhammadiyah Surakarta ini punya pendapat berbeda cenderung lucu sebagai sindiran terhadap penggila dan penggemar berat batu akik. 

Menurut Agung, dia akan memilih rumah yang terbuat dari, dan berhiaskan batu akik. Pendapat senada dikemukakan Manajer Hypermart, Shaggy Sigit Sarwanto, dan seorang ibu rumah tangga muda, Erza Marzasari. Sedikit mirip adalah ungkapan hati Ary Soulone. Dia memilih beli rumah yang berhadiah batu akik.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.