Gedung Tinggi, Antara Gengsi dan Reputasi

Kompas.com - 15/03/2015, 08:00 WIB
dokumen Putragaya Wahana Thamrin Nine Complex, Thamrin, Jakarta Pusat.
JAKARTA, KOMPAS.com - Memiliki, dan membangun gedung tinggi, apalagi yang masuk kategori pencakar langit, tak semata soal gengsi, melainkan juga reputasi. Gedung tinggi sama halnya dengan pencapaian klimaks sebuah rekam jejak. Karena, di situlah kredibilitas, kemampuan finansial, tenaga, pikiran, mentalitas, dan nama baik dipertaruhkan.

Tak mengherankan, saat Sahid Sudirman Center rampung pembangunannya dan dibuka pada Sabtu (14/3/2015), Vice President Director Sahid Group, Haryadi B Sukamdani semringah bukan kepalang. 

"Kami membangun pada momen yang tepat. Saat ketika kebutuhan ruang perkantoran masih tinggi, dan pasokan di kawasan central business district (CBD) Jakarta terbatas," tutur Haryadi kepada Kompas.com sebelum, dan setelah seremoni pembukaan Sahid Sudirman Center yang diresmikan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Menurut Haryadi, Sahid Sudirman Center yang dikembangkan dengan skema kerjasama operasi antara Sahid Group, Pikko Land Group, dan Dua Mutiara Group (Tan Kian), merupakan sebuah signature property. 

"Tak akan ada lagi gedung seperti ini yang akan kami bangun. Mungkin jangka waktu lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan setengah abad sekalipun. Oleh karena itu, kami mengerahkan segala kemampuan, keahlian, dan juga dukungan finansial agar Sahid Sudirman Center ini menjadi kebanggan," tutur Haryadi.

Tak main-main, untuk mengembangkan gedung yang menjulang 258 meter dan berisi 59 lantai dalam hitungan marketing ini konsorsium tiga imperium bisnis itu menghabiskan dana sekitar Rp 1,5 triliun. Biaya ini di luar perolehan lahan, yang menurut Haryadi sudah menyentuh angka Rp 120 juta per meter persegi. 

Jadi, kata Haryadi, membangun Sahid Sudirman Center, berarti juga membangun kebanggaan dan reputasi. "Selama ini kami dikenal sebagai spesialis pengembangan hotel. Namun, dengan berdirinya Sahid Sudirman Center, kompetensi kami bertambah," imbuh dia.

Dengan membangun pencakar langit pula, gengsi Sahid Group sebagai pengembang mulai diperhitungkan dan menjadi salah satu yang berpengaruh. Ini dibuktikan dengan masuknya pebisnis-pebisnis skala besar menjadi penyewa Sahid Sudirman Center, di antaranya peritel nasional Mitra Adi Perkasa Group beserta anak-anak usahanya, dan juga perusahaan multinasional lainnya di sektor manufaktur, teknologi informasi, perbankan, dan otomotif.

Tak hanya Sahid Group yang merintis pembangunan pencakar langit. Pengembang lain tak kalah agresif, sebut saja Ciputra Group dengan Raffles Tower, Sinarmas Land Group dengan MSIG Tower, Lippo Group dengan St Moritz Tower, dan Putra Gaya Wahaya dengan Thamrin Nine Tower.

Di Indonesia, hingga kini sudah berdiri 65 pencakar langit dengan ketinggian 150 meter ke atas. Sepuluh di antaranya masih dalam tahap pembangunan, dengan satu gedung sudah tutup atap.  Termasuk di antara sepuluh gedung itu adalah supertall  Cemindo Tower yang mendongak 304 meter. 

Sementara pencakar langit yang masih dalam proposal sebanyak empat proyek. Dua di antaranya megatall (ketinggian di atas 500 meter) yakni Signature Tower Jakarta setinggi 638 meter dan Pertamina Energy Tower (523 meter). Dua lainnya merupakan supertall  yakni Peruri 88 (389 meter), dan Arthaloka Square (360 meter). 



EditorHilda B Alexander

Close Ads X