Kompas.com - 16/02/2015, 10:24 WIB
Pameran properti Indonesia Property Expo 2015 di JCC, Jakarta, berlangsung sejak Sabtu (14/2/2015) hingga 22 Januari 2015. DIMAS JAROT BAYU PRAKOSOPameran properti Indonesia Property Expo 2015 di JCC, Jakarta, berlangsung sejak Sabtu (14/2/2015) hingga 22 Januari 2015.
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Adanya skema kredit kepemilikan rumah (KPR) yang disubsidi oleh pemerintah lewat Bank Tabungan Negara (BTN) dianggap masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah (MBR), sangat menguntungkan. Hal itu karena KPR BTN memiliki suku bunga lebih kecil dan periode angsuran lebih lama dibandingkan perbankan lainnya.

Salah seorang pengunjung pameran Indonesia Property Expo 2015, Adit (21), mengaku dirinya lebih memilih menggunakan KPR BTN karena angsurannya rendah. Selain itu, ada subsidi untuk dirinya yang tergolong MBR.

"Harga cicilan KPR lebih menguntungkan daripada harus ngontrak rumah terus. Suku bunga kredit KPR yang ditetapkan juga lebih murah dibandingkan bank swasta lainnya," ujar Adit kepada KOMPAS.com, di Jakarta Hall Convention Center, Senayan, Sabtu (14/02/2015).

Pengunjung lainnya, Maulana (30), mengatakan bahwa KPR yang ditawarkan dianggap menguntungkan. Pasalnya, periode untuk mengangsur kredit lebih lama dibandingkan oleh bank swasta lainnya.

"Kalau dibilang menguntungkan, ya, lumayan. Kita jadi bisa lebih lama mencicilnya, maksimalnya kan 25 tahun periode cicilan," tutur Maulana.

Dia menjelaskan, dirinya lebih memilih menggunakan KPR bersubsidi dari pemerintah karena meringankan beban biaya membeli hunian.

"Ada subsidi dari pemerintah jadi lebih ringan juga mencicilnya. Bisa menghemat untuk biaya lainnya," tandas Maulana.

Namun begitu, seorang pengunjung lainnya, Agus (38), mengaku skema KPR yang diberikan tidak terlalu membantu. Hal itu lantaran harga hunian terus melonjak.

"KPR membantu, tapi tidak banyak. Harga rumah kan terus naik, peningkatannya bisa mencapai sepuluh kali lipat. Padahal, pendapatan kita paling cuma naik satu atau dua kali. Ini kan jelas gapnya," ujar Agus.

Agus menjelaskan, suku bunga yang diberikan lewat KPR masih terlampau tinggi. Ia berharap, pemerintah dapat meringankan suku bunga KPR bersubsidi agar masyarakat dapat memiliki hunian.

"Ya saya berharap ada penurunan suku bunga. Kalau yang sekarang itu masih terlalu berat bagi kelas menengah dan MBR. Sekarang masyarakat kan juga punya kebutuhan rumah," ujar Agus.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Bank BTN, Mansyur S. Nasution, mengatakan akan melakukan penyesuaian suku bunga KPR yang berlalu per 1 Maret 2015. Penyesuaian tersebut dilakukan setelah evaluasi dengan berbagai pertimbangan bisnis serta tetap memperhatikan kemampuan masyarakat dan bank.

"Penyesuaian suku bunga bervariasi. Untuk KPR/KPA dengan suku bunga tetap 1 atau 2 tahun penurunan bervariasi antara 50 sampai 75 basis poin. Untuk KPR/KPA Subsidi penurunan bervariasi antara 200 sampai 400 basis poin," kata Mansyur.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.