Kompas.com - 21/01/2015, 14:19 WIB
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com — Sektor properti komersial perkantoran di kawasan segi tiga emas atau central business district (CBD) Jakarta mengalami penurunan signifikan sepanjang tahun 2014. Hal ini ditandai dengan kontraksi tingkat permintaan yang hanya mencapai 48.363 meter persegi.

Menurut National Director Head of Advisory JLL Indonesia, Vivin Harsanto, tingkat permintaan tersebut merupakan catatan terendah sepanjang satu dekade terakhir sejak 2004. Sebelumnya tingkat permintaan bisa mencapai ratusan ribu meter persegi.

"Bahkan pada kuartal terakhir 2014, terjadi negative take up (serapan negatif) seluas 2.600 meter persegi," tutur Vivin kepada Kompas.com, Rabu (21/1/2015).

Sejatinya, tambah Vivin, tren kemerosotan mulai terjadi pada 2012 lalu. Ketika itu tingkat serapan mencapai sekitar 360.000 meter persegi, lebih rendah ketimbang pencapaian 2011 yang sekitar 430.000 meter persegi.

"Penurunan terus berlanjut pada 2013, di mana ruang-ruang perkantoran terserap seluas 300.000 meter persegi. Tahun ini pun tingkat serapan diperkirakan tidak akan terjadi lonjakan, tetap stabil karena pasokan baru yang masuk pasar cukup banyak," ujar Vivin.

Pemilihan umum, perlambatan pertumbuhan ekonomi, kenaikan suku bunga, tarif dasar listrik, dan bahan bakar minyak (BBM), menurut Vivin, merupakan pemicu utama yang memengaruhi pertimbangan perusahaan menunda ekspansi dan eksekusi penyewaan ruang perkantoran.

"Sebaliknya, banyak perusahaan yang justru melakukan efisiensi dan relokasi dari sebelumnya berkantor di kawasan CBD ke gedung yang dimiliki sendiri," tambah Head of Markets JLL Indonesia, Angela Wibawa.

Rendahnya kinerja serapan perkantoran, kata Angela, juga dipengaruhi nihilnya pasokan baru yang masuk pasar pada 2014. Dengan demikian, meski menunjukkan negative take up, tingkat okupansi sedikit naik, yakni 1,03 persen menjadi rerata 94 persen.

Demikian halnya dengan harga sewa (rental rate) tidak mengalami perubahan berarti, kecuali pada gedung grade B yang naik sekitar tiga persen pada kuartal IV-2014. Sementara service charge (biaya perawatan) menunjukkan tendensi meningkat yang dipengaruhi kenaikan tarif dasar listrik, BBM, dan upah minimum regional (UMR).

Adapun harga sewa rerata mencapai Rp 286.684 per meter persegi per bulan dan biaya perawatan rerata saat ini sekitar Rp 80.823 per meter persegi per bulan.

"Terlepas dari kondisi perekonomian dalam negeri yang masih diwarnai melemahnya rupiah, tingginya suku bunga, dan sentimen bisnis yang sedang menurun, aktivitas pasar properti di Indonesia masih menunjukkan persepsi positif," tandas Director Strategic Consulting JLL Indonesia, Herully Suherman.

Tahun ini hingga 2018 mendatang, kata Herully, terdapat tambahan pasokan gedung perkantoran di CBD Jakarta seluas 2,8 juta meter persegi. Sedangkan perkantoran existing mencapai luas 4,7 juta meter persegi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.