Kompas.com - 06/01/2015, 07:21 WIB
Tumpukan sampah dalam 20 gerobak di Jl Raya Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini belum diangkut sejak Kamis, (1/5/2015). Hingga Senin malam (6/12/2014), tak satu pun petugas Dinas Kebersihan Kecamatan Kebayoran Baru mengangkut gerobak-gerobak sampah ini. Andrea PereshtuTumpukan sampah dalam 20 gerobak di Jl Raya Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini belum diangkut sejak Kamis, (1/5/2015). Hingga Senin malam (6/12/2014), tak satu pun petugas Dinas Kebersihan Kecamatan Kebayoran Baru mengangkut gerobak-gerobak sampah ini.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Ada pemandangan berbeda di kawasan elite Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kawasan yang sebelumnya bersih, rindang oleh pepohonan, dan paling diburu investor apartemen mewah, itu kini kotor dan berbau oleh tumpukan sampah.

Tumpukan sampah dalam lebih dari 20 gerobak tersebut, teronggok di beberapa lokasi. Di antaranya di Jl Kramat Pela Raya, atau persis depan TPU Kramat Pela, di depan Pasar Burung, dan sekitar Jl Barito.

Menurut Andrea Pereshtu, salah seorang warga, sampah sudah tidak diangkut petugas Dinas Kebersihan DKI Jakarta, sejak Kamis (1/1/2015). Akibatnya, pemandangan di sekitarnya menjadi tak sedap dipandang mata, bau menyengat, dan juga banyak lalat.

"Jumlah gerobak sampah semakin banyak dan "antri" panjang untuk diangkut. Saya perhatikan, gerobak-gerobak sampah ini ada di beberapa ruas jalan. Tak hanya di Jl Kramat Pela Raya, melainkan juga di Pasar Burung, dan Jl Barito. Bahkan, tumpukan sampah di ruas-ruas jalan tersebut sudah tidak diangkut sejak 25 Desember 2015," tutur Andrea kepada Kompas.com, Senin (5/1/2015).

Andrea Pereshtu Tumpukan sampah dalam gerobak di Jl Kramat Pela Raya, menimbulkan bau tak sedap dan mengundang banyak lalat. Hingga Selasa dini hari (6/1/2015), gerobak sampah ini belum diangkut petugas Dinas Kebersihan DKI Jakarta.
Andrea memaparkan, sebagai warga, dia ingin memperjuangkan haknya mendapat layanan kebersihan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebab, selama ini dia taat membayar pajak, dan juga Iuran Pengelolaan Lingkungan (IPL) yang di dalamnya terdapat komponen kebersihan dan keamanan.

"IPL ini saya bayar tiap bulan sebesar Rp 150.000. Saya tidak mengeluh dan kesal. Cuma ini sudah keterlaluan. Berhari-hari sampah tak diangkut. Pemandangan jadi tak sedap, bau, dan tidak higienis. Sangat mengganggu. Bukan saya saja, juga semua warga. Cuma saya tidak tahu, apakah Ahok sebagai gubernur, tahu dan mendengar hal ini," beber Andrea.

Dia menambahkan, selain tumpukan sampah dalam gerobak, keberadaan tempat pembuangan sementara (TPS) Kramat Pela juga sangat mengganggu. TPS tersebut mengganggu lalu lintas warga dan juga kendaraan. Menurut Andrea, sudah sejak September 2014, dia berkirim pesan pendek dan menghubungi semua nomor call center yang dipublikasikan Ahok.

"Namun hingga saat ini tak satu pun pesan pendek dibalas dan hubungan telepon diangkat. Jadi apa dong kalau sudah begini? Ahok cuma janji-janji doang? Padahal masalah sampah ini penting sekali, bisa menyebabkan penyakit," tandas Andrea.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.