Kompas.com - 21/08/2014, 16:45 WIB
Ilustrasi Pembangunan Jalan KOMPAS/ Agus SusantoIlustrasi Pembangunan Jalan
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Jakarta yang baru memiliki rasio jalan 6-6,5 persen, bukan indikator utama dan ideal untuk memacu pertumbuhan ekonomi, produktivitas, dan efisiensi  melalui pembangunan enam ruas tol dalam kota.

Pengamat perkotaan yang juga dosen Universitas Pelita Harapan, Elisa Sutanudjaja, mengatakan hal tersebut kepada Kompas.com, Kamis (21/8/2014).

Menurut Elisa, yang harus menjadi fokus utama Pemprov DKI Jakarta adalah mempercepat pembangunan sistem dan jaringan transportasi massal yang terintegrasi dan menghubungkan titik-titik strategis dan konektivitas antarkota dalam konsep megapolitan Jadebotabek.

"Bukan malah membangun jalan tol yang hanya akan memudahkan mobilisasi kendaraan pribadi dari pinggiran ke dalam kota Jakarta. Kalau ini direalisasikan daya dukung Jakarta akan semakin terkikis, bebannya semakin berat, tambah macet dan lebih parah lagi akan mendorong perubahan tata ruang secara struktural," papar Elisa.

Kemacetan dan semrawutnya kondisi lalu lintas Jakarta, ujar Elisa, disebabkan oleh minimnya alternatif angkutan publik yang dapat diakses warga pinggiran. Sehingga yang terjadi adalah mobilisasi yang tidak mangkus dan sangkil.

"Lihat saja kawasan Alam Sutera, Gading Serpong dan Lippo Karawaci yang tidak memiliki jaringan transportasi berbasis rel. Warganya hanya punya satu opsi yakni menggunakan jalan tol yang konsekuensi logisnya adalah ribuan kendaraan memadati Jakarta," tutur dia.

Pemprov DKI Jakarta, tambah Elisa, harus lebih cerdas menemukan solusi atas masalah ini. "Segera terbitkan angkutan umum dengan kapasitas besar. MRT, busway, atau apapun moda transportasi yang terintegrasi, efisien, dan murah yang dapat diakses publi," imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemprov DKI menyetujui pembangunan enam ruas jalan tol karena tersedia ruas khusus untuk transportasi massal. Nantinya, tiga koridor layang transjakarta akan melintasi enam ruas tol dalam kota itu.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama menjamin, tiap harinya, Jakarta bakal bertambah macet sebab jumlah kendaraan yang selalu bertambah tidak diiringi dengan penambahan rasio jalan Ibu Kota.

Rasio jalan Jakarta, kata dia, baru mencapai 6 persen. Padahal idealnya, rasio jalan di kota besar mencapai 12 persen dari luas daerahnya.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Hermanto Dardak, pun sepakat dengan Baskui. Menurutnya, Pembangunan infrastruktur jalan sangat penting dan merupakan prioritas karena sangat menentukan pertumbuhan ekonomi, produktivitas dan efisiensi kota.

Mengutip Habitat PBB, Hermanto mengatakan, proporsi urban area untuk jalan dan ruang publik sebesar 30 persen dari total area kota. Nah, Jakarta masih 6.5 persen, jauh dari proporsi ideal. Kota maju seperti New York dan Kopenhagen sudah mencapai 30 persen dan 20 persen.

"Kami terus berupaya melakukan perbaikan dan penambahan infrastruktur. Selain itu, kami juga tengah melakukan perbaikan di berbagai aspek seperti angjutan umum agar pergerakan lokal lebih efisien. Taman-taman dilengkapi jaringan internet nir kabel, membangun waduk, bendungan, jaringan air bersih, dan tentu saja melalui maksimalisasi pemanfaatan teknologi," tandasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.