Singapura Sukses Kendalikan "Bubble" Properti

Kompas.com - 27/05/2014, 14:08 WIB
Investasi properti warga Singapura di mancanegara melonjak 43 persen sejak 2012. hdbflatsforsale.comInvestasi properti warga Singapura di mancanegara melonjak 43 persen sejak 2012.
|
EditorHilda B Alexander
KOMPAS.com -- Pembatasan dan pengetatan yang diberlakukan oleh beberapa negara dalam tiga tahun terakhir, pasca krisis finansial global, ternyata berbuah hasil positif. Singapura, contohnya, selama kurun 2009-2013, mampu mengekang gelembung (bubble) properti.

Bahkan, kebijakan pengetatan di negeri kota ini tidak hanya mampu mengendalikan gelembung properti, tetapi juga vital untuk kebijakan moneter nasional.

Direktur Pelaksana Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore), Ravi Menon, mengatakan hal tersebut dalam ajang Asian Monetary Policy Forum.

Dia mengungkapkan, pengetatan berupa langkah-langkah makroprudensial bersifat sementara dan hanya akan digunakan bila diperlukan.

"Situasi saat ini sangat tidak biasa. Kita tidak harus jatuh ke dalam perangkap lebih jauh. Percayalah bahwa langkah-langkah kebijakan inovatif yang diambil sekarang ... merupakan dasar bagi paradigma baru di masa depan," kata Menon.

Singapura telah menerapkan kebijakan pengetatan dalam delapan putaran, mencakup pembatasan tenor pinjaman maksimum hingga 35 tahun, mengelompokkan rasio total utang (total debt servicing ratio/TDSR) sebesar 60 persen, dan pembatasan eksposur properti terkait bank sebesar 35 persen dari pinjaman secara keseluruhan.

Sementara untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dengan tenor kurang dari 30 tahun, rasio pinjaman terhadap aset yang diagunkan (loan to value/LTV) tetap pada angka 80 persen untuk pinjaman pertama, 50 persen untuk pinjaman kedua, dan 40 persen untuk pinjaman ketiga. Untuk utang lebih dari 30 tahun, rasio LTV dikurangi menjadi masing-masing 60 persen, 30 persen, dan 20 persen.

Menariknya, Singapura adalah salah satu pelopor dari inisiatif pengetatan ini dan memperkenalkannya sejak awal 1996. Negara-negara Asia lainnya yang memberlakukan pembatasan serupa adalah Tiongkok, Korea, Malaysia, dan Hongkong.

Selain itu, Singapura juga memperkenalkan kebijakan fiskal, seperti bea materai pembeli sebesar 18 persen dan bea materai penjual menjadi 16 persen untuk transaksi properti yang bertujuan mengekang tumbuhnya praktik-praktik berbau spekulasi.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X