Kompas.com - 22/04/2014, 16:34 WIB
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Pembatasan pembangunan pusat belanja di wilayah administrasi DKI Jakarta menjadi stimulan kuat bagi pengembang untuk menggarap kawasan pinggiran (suburban) dan kota-kota di daerah di luar Pulau Jawa. Selain itu, agresifnya perusahaan ritel dalam mengembangkan bisnisnya ikut ambil bagian dalam fenomena pembangunan pusat belanja di luar Jakarta.

PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI) contohnya. Peritel ini telah menyiapkan dana belanja modal sebesar Rp 600 miliar dengan target pada 2014 mereka memiliki luas gerai hingga 640.000 meter persegi.

Per November 2013 lalu MAPI mengoperasikan sekitar 1.700 gerai ritel dan department store di 57 kota seluruh Indonesia. MAPI memiliki 4 unit bisnis utama, yakni department store, specialty stores, food & beverage, serta unit-unit bisnis lainnya.

Sementara itu, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mengalokasikan Rp 500 miliar untuk membuka 15 gerai baru tahun ini dengan konsentrasi di luar Jawa, yaitu Kalimantan dan Nusa Tenggara. Adapun gerai baru di Jakarta ada di St. Moritz Mall dan akan dibuka pada semester kedua tahun ini.

Hanya, tidak seperti Jakarta yang telah jauh bergeser pada jenis pusat belanja spesifik berkonsep gaya hidup (lifestyle mall), fenomena di daerah justru berupa one stop shopping mall. Konsep ini akan melayani semua kebutuhan keluarga.

Associate Director Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia, Soany Gunawan, menuturkan, Jakarta telah melewati masa puncak kehadiran one stop shopping mall. Konsep pusat belanja di Jakarta sudah berubah.

"Yang saat ini tumbuh justru pusat belanja dengan konsep spesifik yang menekankan pada hobi, relaksasi, dan komponen gaya hidup lainnya," ujar Soany kepada Kompas.com, Selasa (22/4/2014).

Lebih lanjut Soany mengatakan, golongan menengah daerah menjadi bidikan para peritel. Kelas inilah yang menjadi motor penggerak bertumbuhnya pusat-pusat belanja di daerah. Mereka yang selama ini melakukan perjalanan bisnis ulang alik ke Jakarta atau kota lain di Pulau Jawa yang memengaruhi konstelasi bisnis ruang ritel daerah.

Kota-kota seperti Medan, Pekanbaru, Palembang, Balikpapan, Manado, dan Makassar tak sekadar memiliki jumlah populasi dengan daya beli tinggi, melainkan juga minat untuk berbelanja (purchasing power).

Hanya, menurut Soany, perlu digarisbawahi, bahwa pengembang juga harus jeli untuk tak sekadar membangun pusat belanja. Mereka harus mengelola pusat belanja dengan fokus pada tenancy mix yang tepat agar pengunjung secara regular terus datang dan berbelanja. Pasalnya, belum saatnya di daerah dibangun pusat belanja spesifik dan belum saatnya pula membangun kelas pusat belanja lebih atas.

"Paling logis dan dapat diterima pasar adalah kelas menengah-menengah dan menengah atas. Pusat belanja kelas atas masih dikuasai Jakarta karena memang marketnya ada," imbuh Soany.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.