Kompas.com - 15/04/2014, 15:26 WIB
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com -- Pasar properti Indonesia tidak hanya diwarnai kehadiran pendatang baru. Para pemain lawas yang sempat vakum akibat krisis multidimensi 1997/1998 kembali hadir meramaikan persaingan. Kompetisi kian ketat saat para pengembang besar secara agresif melakukan ekspansi bisnisnya.

Alhasil, pasar properti Indonesia semakin riuh dan semarak. Di satu sisi, akselerasi pertumbuhan kian menguat dengan semakin banyaknya pasokan, tumbuhnya permintaan, dan juga potensi kenaikan harga. Di sisi lain, konsumen dihadapkan pada banyak pilihan dan kesempatan untuk mendapatkan properti idaman.

Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan, pasar properti Indonesia sejatinya ditentukan oleh kelompok-kelompok besar, seperti Sinarmas Land Group, Ciputra Group, Lippo Group, Pakuwon Group, Summarecon Group, dan Agung Podomoro Group.

Sementara nama lawas macam Brasali Group, Lyman Group, dan Salim Group hanya mengembangkan properti kelas tertentu dan tidak segencar aksi bisnis pengembang-pengembang besar tersebut di atas.

"Tentu saja, meskipun tidak agresif, mereka punya keunggulan sebagai pengembang yang menjual produk properti berkualitas. Nama besar mereka merupakan jaminan kualitas tinggi sehingga pasar percaya untuk membeli properti mereka," tutur Ferry kepada Kompas.com, Selasa (15/4/2014).

Menurut Ferry, bila nama-nama besar macam Ciputra Group, Sinarmas Land Group, dan Agung Podomoro Group sebagai supply driven (penyedia properti untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan ceruk besar), lain halnya dengan Lyman Group dan Salim Group. Dua nama terakhir ini hadir untuk ceruk pasar terbatas.

"Seperti halnya Dua Mutiara Group yang dimiliki Tan Kian. Kelompok usaha bisnis ini secara spesifik menyasar kelas atas. Tak mengherankan propertinya juga seharga miliaran rupiah dan berada di kawasan bisnis utama," kata Ferry.

CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono, menambahkan, untuk kelompok pengembang eksklusif, cenderung beroperasi secara diam-diam (silent developer). Mereka biasanya menyediakan lahan atau dana untuk dikerjasamakan dengan pengembang supply driven yang sangat aktif.

"Meski bekerja di belakang layar, namun nama Salim, Tan Kian, dan lainnya itu sebagai background sebuah proyek, masih tetap disegani," tandas Hendra.

Penguasa properti

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.