Kompas.com - 21/02/2014, 07:26 WIB
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com — Sengketa properti yang melibatkan konsumen apartemen Kemanggisan Residence dan PT Mitra Safir Sejahtera mencuat kembali. Setelah berbagai upaya mendapatkan keadilan mentah di tengah jalan, para konsumen tersebut akhirnya bersepakat menggandeng pengacara Yusril Ihza Mahendra.

Menurut Pengurus Paguyuban Rusunami Kemanggisan, Valentino, digandengnya Yusril ialah untuk menuntaskan masalah hak konsumen pasca-putusan pailit.

"PT Mitra Safir Sejahtera (MSS) selaku pengembang lama rusun itu tidak membagi harta pailit secara adil. Kita sebagai konsumen hanya mendapatkan 15 persen saja. Padahal, seluruh konsumen memberi kontribusi paling besar kepada pundi-pundi MSS, yaitu Rp 102 miliar," kata Valentino, dalam aksinya, di Kemanggisan, Jakarta, Rabu siang (19/2/2014).

Pengamat properti dari Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, menegaskan, pemerintah harus intervensi. Pasalnya, kasus ini bukanlah kasus kecil. "Kami menyerukan DPR, Kemenpera, Kemenhuk dan HAM segera menelusuri dan melakukan investigasi terkait kasus ini. Bayangkan,  sebanyak 520 konsumen saat ini tidak menentu haknya. Di sisi lain unit-unit mereka telah dijual kembali oleh pengembang baru. Jangan sampai hal ini menjadi preseden buruk bagi peradilan dan keadilan di negeri ini," ujar Ali, Kamis (20/2/2014).

Ali juga menengarai putusan pailit MSS mengandung kejanggalan karena sampai sejauh ini belum terbukti dari neraca pailit yang menggambarkan gagalnya kewajiban membayar debitur MSS. Konsumen masih mencicil bahkan ada yang sudah melunasi angsuran KPA BTN.

"Selain itu, mereka memanfaatkan kelemahan UU No 37 Tahun 2004. Fakta Hakim Pengawas pada Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Sementara (PKPUS) yang berujung pada kepailitan MSS adalah sama dengan hakim pengawas pada kasus nasabah Bank BTN lainnya yang dipailitkan, yakni Kasianus Telaumbanua. Begitu juga kuratornya dari Law Firm Tandra & Associates," tandas Ali.

Jelas, kasus tersebut membuat calon konsumen harus meningkatkan kewaspadaan dan teliti sebelum membeli properti. Alih-alih mendapat hunian impian, malah buntung kemudian.

Ketua Lembaga Advokasi Konsumen Properti Indonesia, Erwin Kallo, mengatakan, sebelum membeli properti, konsumen harus memiliki informasi yang cukup mengenai sepak terjang pengembang, dan pengetahuan tentang properti yang akan dibeli.

"Dua hal itu yang utama selain harga dan lokasi," ujar Erwin.

Rekam jejak dan reputasi pengembang, lanjut Erwin, sangat penting. Pengembang yang tidak bisa membangun tuntas proyeknya bisa dikategorikan pengembang nakal. Kendati mereka memiliki portofolio lainnya yang sukses terbangun.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.