Kompas.com - 30/12/2013, 19:07 WIB
Sejumlah pengembang akan menggenjot pendapatan berulang sebagai antisipasi melambatnya pertumbuhan sektor properti. KOMPAS.com/RAMSejumlah pengembang akan menggenjot pendapatan berulang sebagai antisipasi melambatnya pertumbuhan sektor properti.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Sektor properti tahun 2014 akan menghadapi beberapa tantangan yang berpotensi mengakibatkan perlambatan. Tantang tersebut berupa sentimen negatif dari ekonomi global yang belum pulih dan pasar domestik terkait tren aktual.

Tantangan domestik menyangkut kenaikan suku bunga, kebijakan Bank Indonesia mengenai Loan to Value (LTV) yang baru dan turunnya target kredit perbankan. Hal tersebut dapat menekan pertumbuhan sektor properti.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hasil riset Bank Mandiri menyebutkan, kenaikan BI Rate yang mencapai 175 basis poin dari 5,75% pada awal 2013 menjadi 7,5% pada November 2013, patut diwaspadai karena diperkirakan akan menurunkan permintaan properti. Terlebih pemberlakuan aturan LTV baru.

Sebelum pemberlakuan LTV baru, pertumbuhan KPR dan KPA sangat pesat bahkan mencapai 45% secara tahunan. Hal ini ditengarai karena penyaluran kredit secara gencar sebelum penerapan LTV. Sebagai akibatnya, kualitas kredit KPR mulai terpengaruh dan memburuk dari 2,02% pada Juni 2012 menjadi 2,47% pada Juni 2013. Sebaliknya untuk KPA, pertumbuhan masih tetap kencang hingga 2013.

Oleh karena itu, BI memperketat aturan baru terkait sektor properti pada akhir September 2013 yaitu pengenaan LTV yang lebih rendah pada pembelian rumah tapak, rumah susun dan apartemen tipe 70. Untuk pembelian kedua dikenakan LTV sebesar 60% dan untuk pembelian ketiga dan seterusnya dikenakan LTV 50%. Alasannya karena tipe tersebut lebih berpotensi menjadi sarana investasi dan spekulasi.

Selain itu, juga ada ketentuan mengenai KPA dengan tipe 22-70 dengan LTV maksimal 80%, sementara untuk pembelian kedua, LTV maksimal sebesar 70%. Untuk pembelian ketiga dan seterusnya, LTV maksimal adalah sebesar 60%. Selain itu, BI juga mengatur mengenai larangan pembelian rumah yang belum ada fisiknya (inden) untuk KPR kedua dan seterusnya.

Penerapan aturan LTV baru ini semakin menekan pertumbuhan KPR-KPA. Pada penetapan aturan LTV 2012 pertumbuhan menurun 44% pada Juni 2012 menjadi 18% pada Juni 2013. Pada tahun 2012, porsi yang terkena dampak LTV mencapai 50%. Dengan porsi yang lebih besar tersebut, penurunan pertumbuhan KPR-KPA akan semakin tajam.

Implikasi dari kebijakan pengetatan ini bakal menurunkan target pertumbuhan kredit 2014 menjadi 15%-17% jauh lebih rendah dibandingkan posisi saat ini di level 23%. Perbankan tentunya akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit propertinya.

Bagaimana respon pengembang? Pengembang merespon kebijakan BI ini dengan menetapkan target penjualan pemasaran 2014 lebih moderat 2014 ketimbang 2012 atau 2013. PT Summarecon Agung Tbk., contohnya. Pengembang sejumlah perumahan skala kota ini akan mematok target penjualan 2014 sama dengan 2013 yakni Rp 4 triliun.

"Sekitar Rp 3,3 triliun hingga Rp 4 triliun. Dampak aturan LTV sangat terasa, dan kami konservatif ya," ujar Direktur Utama Summarecon Agung, Johannes Mardjuki, saat memberi keterangan pers setelah penerbitan Sukuk Ijarah, Rabu (6/11/2013).

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.