Transformasi Solo, Bukan Lagi "Halaman Belakang" di Jawa Tengah!

Kompas.com - 04/12/2013, 19:17 WIB
The Park Solo. HBA/KOMPAS.comThe Park Solo.
|
EditorHilda B Alexander
SOLO, KOMPAS.com — Bukan kebetulan bila PT Nirvana Development Tbk melalui Tristar Land menggarap Solo sebagai wilayah ekspansi bisnis mereka. Demikian pula halnya dengan Sun Motor Group yang berkolaborasi dengan Gapura Prima Group.

Keduanya mengembangkan properti multifungsi The Park Solo dan Solo Paragon yang terdiri atas pusat belanja, hotel, apartemen, dan pusat bisnis.

Wilayah Solo Raya diyakini menawarkan potensi yang berbeda ketimbang kawasan lainnya. Bahkan, untuk saat ini, transformasi demikian nyata terasa. Solo bukan lagi "halaman belakang" dari kota-kota utama seperti Semarang atau Yogyakarta.

Demikian dikatakan Direktur Operasional Solo Paragon, Budianto Wiharto, kepada Kompas.com, Rabu (4/12/2013).

Menurutnya, Solo yang ditahbiskan sebagai kota dagang memiliki posisi strategis. Lokasi Solo berada di sentra perputaran bisnis Jawa bagian tengah. Di sini banyak bermukim perusahaan-perusahaan dan industri tekstil, consumer goods, industri kreatif, dan lain sebagainya.

"Para pebisnis tersebut tentu saja mempekerjakan karyawan dalam jumlah banyak. Tak jarang mereka juga mendatangkan ekspatriat untuk level manajer ke atas. Nah, mereka inilah salah satu potensi yang membuat Solo tumbuh pesat," papar Budianto.

Hal senada diakui General Manager The Park Solo, Istar Pakaja. Ia mengatakan bahwa daya beli warga Solo tak kalah dengan kota-kota lainnya. Bahkan lokasi tempat The Park berada merupakan kawasan elite yang ia ibaratkan sebagai Pondok Indah-nya Solo.

"Jika di pusat kota merupakan kawasan elite lama, maka Solo Baru adalah kawasan elite yang berkembang mengikuti dinamika zaman. Banyak anak muda, generasi kedua para pengusaha lama yang mulai kembali dari perantauan di mancanegara, untuk meneruskan usahanya di sini," jelas Istar.

Tak mengherankan bila baik Solo Paragon maupun The Park Solo dikunjungi oleh keluarga muda, eksekutif muda, dan pengusaha muda. Mereka memenuhi kedua pusat belanja tersebut, terutama klaster kulinernya.

"Mereka hang out menghabiskan uang dan juga waktu untuk menikmati gaya hidup baru. Selama ini, untuk memuaskan gaya hidup tersebut, Yogyakarta menjadi ukuran. Namun, kini tidak lagi. Mereka justru menciptakan gaya hidup baru," imbuh Istar.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X