Kompas.com - 01/10/2013, 15:43 WIB
Pengembang mengincar kawasan pinggiran untuk dikembangkan properti komersial. wartakotaPengembang mengincar kawasan pinggiran untuk dikembangkan properti komersial.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketatnya perizinan terkait pembangunan properti komersial terutama gedung perkantoran di wilayah hukum Provinsi DKI Jakarta, memaksa para pengembang berpaling ke pinggiran.

Terlebih untuk daerah selatan dan daerah-daerah tertentu di Jakarta dengan ketentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 20 persen, menjadi pemantik utama beralihnya orientasi pengembangan ke wilayah-wilayah seperti Bekasi, Tangerang, Depok dan Serpong.

Ronaldo Maukar, Chief Operating Officer (COO) Merdeka Ronov Indonesia, mengungkapkan motivasinya terkait pengembangan terintegrasi Intermark di pinggiran Jakarta, kepada Kompas.com, Selasa (1/10/2013).

"Selain ketatnya perizinan, defisit lahan yang tersedia di dalam kota Jakarta juga menjadi pertimbangan lainnya mengapa akhirnya kemudian kami membangun di wilayah pinggiran. Bahkan untuk koridor Simatupang yang sedang bertumbuh pun, pasok lahan minim sekali. kalau pun ada, harganya sudah selangit," jelas Ronaldo.

Hal senada dikemukakan Ricky Tarore, Senior Associate Director Office Services Colliers International Indonesia. Menurutnya, wilayah pinggiran menjadi alternatif bagi pengembang untuk melakukan ekspansi usahanya.

"Pasok lahan kosong masih banyak dengan harga relatif lebih rendah. Saat ini harga pasar berlaku di kawasan pinggiran yang dilintasi atau dekat dengan akses tol masih berada pada kisaran Rp 5 juta-Rp 10 juta per meter persegi. Bandingkan dengan di koridor Simatupang yang sudah mencapai Rp 20 juta per meter persegi dan CBD Jakarta yang tembus angka di atas Rp 50 juta per meter persegi," ujar Ricky.

Oleh karena itu, lanjutnya, dengan disparitas harga selebar itu, kesempatan wilayah pinggiran untuk lebih berkembang sangat memungkinkan. Karena akan ada banyak pengembang yang membangun fasilitas-fasilitas bisnis.

Intermark sendiri merupakan pengembangan multifungsi yang terdiri atas perkantoran strata  Associate Tower seharga Rp 20 juta per meter persegi, ruang konvensi dan eksebisi Merdeka Assembly Hall berkapasitas 1.000 orang, kondotel dengan pengelola Swiss-Belhotel dan apartemen Tuscany Residence dengan harga perdana Rp 500 juta hingga Rp 2 miliar per unit.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.