Kompas.com - 28/09/2013, 09:42 WIB
Bogor membutuhkan pemimpin yang bernyali besar. library.thinkquestBogor membutuhkan pemimpin yang bernyali besar.
|
EditorHilda B Alexander
BOGOR, KOMPAS.com — Wali Kota Bogor periode 2014-2019, Bima Arya Sugiarto, dihadapkan pada tiga masalah mendasar, yakni kemacetan terkait masalah transportasi, PKL yang berkorelasi dengan perekonomian, dan maraknya alih fungsi peruntukan yang terkait dengan tata ruang.

Pengembang berpendapat, Bima harus dapat menyelesaikan tiga masalah krusial tersebut secara tegas, tepat, terukur, dan relatif tidak menimbulkan konflik berarti. 

Pendapat tersebut dikemukakan pengembang properti PT Graha Andrasentra Propertindo dan pengamat perkotaan kepada Kompas.com, Jumat (27/9/2013). 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Atang Wiharna, Chief Marketing Officer Graha Andrasentra Propertindo, pengembang Bogor Nirwana Residence, sosok wali kota terpilih memiliki kualitas lebih tinggi ketimbang wali kota-wali kota sebelumnya. Berpendidikan, akademisi, intelektual, terbuka, dan memahami persoalan.

"Namun, hal tersebut saja tidak cukup, dibutuhkan keberanian untuk memutuskan dan mengeksekusi hal-hal strategis demi kemajuan kotanya. Apakah Bima punya nyali membereskan PKL dan mengevaluasi izin pembangunan pusat-pusat belanja, hotel, dan apartemen yang bermasalah," papar Atang.

Tampilnya Bima Arya Sugiarto sebagai Wali Kota Bogor, dipandang Atang, ibarat oasis yang dapat membawa perubahan. Sejumlah program kerja yang ditawarkan masuk dalam perhitungannya sebagai pelaku bisnis, khususnya properti. 

"Kami berbisnis terkait dengan tata ruang. Oleh karena itu, ketika Bima 'menjual' program akan memperbaiki tata ruang kota, kami sangat mendukung. Hanya, perlu dijelaskan lebih rinci, perbaikan apa dan bagaimana cara memperbaikinya. Itu yang kami tunggu," imbuh Atang.

Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriyatna, mengatakan, kendati program-program kerja Bima menyentuh akar persoalan Bogor, yakni transportasi, ekonomi, dan tata ruang, tetapi harus bisa diimplementasikan secara komprehensif.

"Bima harus membuka ruang dialog dengan komunitas-komunitas Bogor yang mengetahui persoalan lebih dari siapa pun. Program kerja bagus akan menjadi mubazir bila tidak dikomunikasikan, dan dibuka dialog yang melibatkan warga masyarakat," tandas Yayat.

Adapun program kerja yang diusung Bima terkait dengan pengembalian reputasi Bogor sebagai kota wisata. Oleh karena itu, industri pariwisata akan dijadikan sebagai basis ekonomi kreatif dan ditingkatkan pertumbuhannya melalui pembukaan ruang-ruang wisata baru. Ruang-ruang wisata ini mencakup destinasi baru dan diversifikasi konsep pariwisata (eco tourismedu tourismcullinary tourism, dan history tourism).

Sayangnya, lanjut Yayat, Bima masih terkendala sebagai sosok yang terlalu elite dan akademis sehingga timbul pendapat "hanya jago dalam tataran teori". Bima harus mampu mengomunikasikan program kerjanya dalam bahasa sederhana yang mudah dipahami dan dapat diimplementasikan dengan baik.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.