Depok Bisa Kaya jika Kembangkan Sektor Pengairan

Kompas.com - 21/09/2013, 15:32 WIB
Ilustrasi: sumber air dari Sungai Ciliwung, Kali Pesanggrahan dan Grogol bisa dimanfaatkan untuk pengembangan usaha sektor pengairan. www.kompas.comIlustrasi: sumber air dari Sungai Ciliwung, Kali Pesanggrahan dan Grogol bisa dimanfaatkan untuk pengembangan usaha sektor pengairan.
|
EditorHilda B Alexander
DEPOK, KOMPAS.com — Depok kaya, tapi miskin. Pendapatan Asli Daerah (PAD) tercatat hanya sebesar Rp 379,7 miliar pada 2012. Itu pun sebagian besar berasal dari pajak daerah. Terutama Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan BPHTB masing-masing sebesar Rp 130 miliar dan Rp 138 miliar.

Padahal, di kota ini banyak beroperasi industri dan pabrik-pabrik skala nasional. Namun, industri-industri tersebut justru sejak lama diplot masuk ke pusat (Jakarta). Walhasil, uangnya lari ke pusat. Sementara Depok mendapat "porsi" tanggung jawab lebih besar untuk membereskan dampak dari aktivitas ekonomi pusat tersebut. Yakni masalah limbah, pencemaran, polusi, tenaga kerja, dan lain sebagainya.

Menurut Pengamat Lingkungan yang juga Staf Pengajar Tata Ruang Departemen Geografi FMIPA, Universitas Indonesia, Tarsoen Waryono, dengan kondisi seperti ini, Depok menjadi tidak memiliki kebebasan finansial untuk mengembangkan apa pun. Termasuk pembangunan infrastruktur jalan tol yang akan membuat kawasan menjadi lebih terbuka dan mengalami akselerasi pertumbuhan merata.

"Depok harus berbuat sesuatu. Jangan hanya mengandalkan PAD dari pajak dan sektor jasa. Kembangkan usaha yang lebih produktif. Kota ini memiliki keunggulan SDA di sektor pengairan karena ia merupakan pertemuan jalur pengairan dari Bogor dan Jakarta. Kualitas airnya berada di level 3 dan 3,5. Ini bisa dimanfaatkan dengan melibatkan investor nasional, terutama swasta," papar Tarsoen kepada Kompas.com, Jumat (20/9/2013).

Lebih jauh Tarsoen menjelaskan, kualitas air tanah di Depok, terutama di kawasan Sawangan, Cinere, dan bagian selatan lainnya jauh lebih baik. Jangan dilupakan pula, kota ini dialiri sungai Ciliwung, kali Pesanggrahan, dan kali Grogol yang bisa dijadikan pasok air baku. Jika ini dikembangkan dengan membuat sebuah produksi sejenis PDAM, maka Depok akan memiliki sumber pendapatan baru.

"Kebutuhan dana untuk mengembangkan usaha di sektor pengairan ini relatif terjangkau. Depok bisa menggandeng perusahaan swasta seperti yang dilakukan Jakarta," ujar Tarsoen.

Berdasarkan riset dan perhitungan yang pernah dilakukan Tarsoen, pasar yang akan menyerap produksi air dari Depok sangat besar dan luas. Jakarta saja hingga saat ini masih mengalami defisit pasok. Kebutuhan air baku di ibu kota itu mencapai 900 juta kubik per tahun. Namun hanya bisa dipenuhi tidak sampai separuhnya, yakni hanya 400 juta kubik per tahun. Sementara produksi perusahaan air minum PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) masih kurang dari 200 juta meter kubik. Belum lagi kebutuhan air di kawasan lainnya yang dekat dengan Depok, seperti Bintaro dan BSD Serpong.

Depok dengan segala keunggulannya, harus berperan sebagai pemasok air baku bersih untuk wilayah-wilayah tersebut. Jika Depok mampu menghasilkan 600 juta meter kubik per tahun, potensi PAD kota ini akan bertambah besar. Dan, Depok dapat merealisasikan sejumlah rencana strategis jangka panjangnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X