Lagi, Donald Trump Tersandung Kasus Hukum

Kompas.com - 27/08/2013, 11:08 WIB
Donald J Trump digugat Jaksa Agung New York secara perdana dengan nilai restitusi 40 juta dollar AS karena telah melakukan penipuan terhadap 5.000 peserta Trump University. worldpropertychannel.comDonald J Trump digugat Jaksa Agung New York secara perdana dengan nilai restitusi 40 juta dollar AS karena telah melakukan penipuan terhadap 5.000 peserta Trump University.
|
EditorHilda B Alexander
NEW YORK, KOMPAS.com - Pamor dan kredibilitas raja properti dunia, Donald J Trump, tampaknya semakin buruk. Setelah beberapa kali tersandung kasus hukum namun selalu lolos dari gugatan, kali ini ia harus berhadapan dengan pemegang otoritas hukum tertinggi Negara Bagian New York.

Trump digugat secara perdata oleh Jaksa Agung New York dengan nilai restitusi sebesar 40 juta dollar AS atau setara Rp 432,4 miliar. Ia dituduh telah melakukan penipuan terkait sekolah properti yang dikembangkannya "Trump University".

Lebih dari 5.000 peserta membayar biaya untuk mengikuti seminar tiga hari sebesar 10.000 dollar AS (Rp 108,1 juta) sampai 35.000 dollar AS (Rp 378,3 juta). Alih-alih menerima kursus program eksklusif properti, para peserta justru hanya menerima sedikit pelatihan substantif.

Jaksa Agung New York, Eric Schneiderman, mengatakan Trump University telah melakukan penipuan kepada konsumen melalui program mahal dan menyebabkan kerugian finansial yang nyata.

"Trump University, atas sepengetahuan dan partisipasi Donald Trump, mengandalkan nama besar dan status selebritinya untuk mengambil keuntungan dari konsumen yang percaya pada merek Trump," ujar Eric.

Dalam gugatannya, Jaksa juga menuduh bahwa selama 2005 hingga 2011, para pemasar "Trump University" membuat "klaim" dan "janji-janji" palsu tentang kursus tersebut. Mestinya, penipuan sudah mulai tercium sejak dini, karena pada tahun 2010 nama "Trump University" berubah menjadi Trump Entrepreneur Initiative setelah program kursus tersebut dinyatakan tidak memenuhi persyaratan hukum untuk disebut sebagai "universitas."

Better Business Bureau menilai kursus tersebut dengan rating D-minus terendah kedua, pada tahun 2010 setelah mereka menerima 23 keluhan. Selain keluhan, pada tahun 2011, New York Times melaporkan, kemarahan para peserta yang tidak pernah menerima pelatihan individual dan dukungan investasi yang dijanjikan.

Selain biaya, materi gugatan Jaksa juga menuduh "Trump University" menjanjikan siswa yang lulus kursus akan belajar dari Donald Trump sendiri sebagai instruktur bisnis. Trump pula yang akan mengajarkan metode sistematis untuk berinvestasi di properti.
 
Namun, kenyataannya, ia tidak pernah menjadi instruktur tunggal dan berperan dalam menciptakan sebuah kurikulum atau pun konten seminar lainnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski dalam posisi di ujung tanduk, Trump, melalui juru bicaranya, justru melakukan serangan balik kepada Jaksa Agung. Sang juru bicara mengatakan tuduhan tersebut sama sekali tidak memiliki manfaat dan tidak lebih dari sebuah aksi publisitas murahan untuk membelokkan isu lemahnya kinerja Jaksa Agung.

"Mungkin kantornya harus lebih perhatian pada penggunaan uang pajak kita, dan fokus pada kinerja pengadilan yang bertanggung jawab atas krisis keuangan," ujar juru bicara tersebut.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X