Nirvana Development Genjot Pembangunan Mal

Kompas.com - 14/08/2013, 13:29 WIB
Nirvana Development merampungkan pekerjaan The Park Solo dan menargetkannya beroperasi pada September 2013. nirvana developmentNirvana Development merampungkan pekerjaan The Park Solo dan menargetkannya beroperasi pada September 2013.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Emiten properti, PT Nirvana Development Tbk (NIRO), akan menggenjot pembangunan pusat perbelanjaan di beberapa kota kedua (second-tier) di seluruh Indonesia.  Dalam pipeline mereka, akan dikembangkan sebanyak lebih dari 20 mal kelas menengah hingga lima tahun ke depan.

Kota-kota yang dibidik berada di Kalimantan Barat (Singkawang, Sanggau, Ketapang), Kalimantan Tengah (Pangkalan Bun, Sampit), Kalimantan Timur (Bontang, Tenggarong), Sumatera Bagian Utara (Binjai, Deli Serdang, Banda Aceh, Lhokseumawe), Sumatera Bagian Selatan (Bandar Lampung), Jawa Timur (Malang, Madiun, Gresik, Blitar).

Presiden Komisaris Nirvana Development, Pingki Elka Pangestu, mengungkapkan, pembangunan pusat belanja tersebut dibarengi dengan akomodasi berkelas bintang tiga, pusat hiburan (entertainment center), dan rukan.

"Di kota-kota kedua tersebut fasilitas umum seperti pusat belanja, dan pusat hiburan sangat terbatas. Di Lampung contohnya, kota-kota di sini kaya akan sumber daya alam. Banyak pekerja dari Jawa yang berkarya di perkebunan. Akan tetapi, mereka kekurangan hiburan dan mal untuk sekadar bersosialisasi atau berbelanja. Demikian halnya di Bontang dan Tenggarong," jelas Pingki kepada Kompas.com, di Jakarta, Rabu (14/8/2013).

Nirvana Development sendiri tengah merampungkan pusat belanja The Park di Solo yang rencananya akan dibuka pada September 2013, mal di Sampit dan Swiss-belhotel di Cirebon. Sementara pusat belanja di Pangkalan Bun, diproyeksikan beroperasi akhir 2014 atau paling lambat awal 2015.

Guna merealisasikan rencana ekspansi tersebut, perseroan dengan kapitalisasi pasar senilai Rp 5,04 triliun ini, telah menyiapkan sejumlah rencana strategis. Mulai dari perkuatan struktur permodalan hingga akuisisi lahan.

"Satu proyek mal kelas menengah setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp 350 miliar-Rp 500 miliar. Konsep pusat belanja yang kami kembangkan setidaknya mencakup konsep F and B, hipermarket sebagai anchor tenant, fashion department store dan pusat hiburan," tandas Pingki.

Saat ini, lanjut Pingki, pihaknya tengah bergerilya mencari lahan untuk menambah koleksi land bank mereka. Sebagian dialokasikan untuk pembangunan mal-mal tersebut.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X