Kompas.com - 01/08/2013, 10:21 WIB
Tahun ini Pikko Land Development mengalokasikan dana senilai Rp 1 triliun hingga Rp 1,5 triliun untuk belanja modal. pikkogroupTahun ini Pikko Land Development mengalokasikan dana senilai Rp 1 triliun hingga Rp 1,5 triliun untuk belanja modal.
|
EditorHilda B Alexander


JAKARTA, KOMPAS.com -
Nama Pikko Group mencuat tatkala mengakuisisi PT Royal Oak Development Tbk (RODA) akhir tahun 2011 dengan nilai Rp 26,88 miliar. Emiten properti tersebut kemudian bersalin rupa menjadi PT Pikko Land Development Tbk.

Dengan nama baru ini, Pikko lebih agresif melakukan ekspansi. Tak hanya mengembangkan properti sendiri, juga berkolaborasi dengan beberapa pengembang besar. Sebut saja Agung Podomoro Group, Lippo Group, Dua Mutiara Group, Istana Group dan Sahid Group.

Sejak berdirinya pada 1982 hingga kini, Pikko memiliki lebih kurang 30 portofolio properti berbagai jenis yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Portofolio tersebut antara lain Sahid Sudirman Residence, Sudirman Park, Hampton's Park Golf View, dan Maple Park Golf View. Sementara The Plaza Semanggi, Thamrin City, Pluit Village, Tamini Square, Grand Mall Bekasi, Palembang Square, Plaza Medan Fair, Pasar Baru Bandung merupakan portofolio hasil kerjasama dengan pengembang lain.

Siapa di balik agresivitas Pikko? Dia tak lain adalah Nio Yantony. Posisinya sebagai Presiden Direktur, memungkinkan Nio melakukan langkah-langkah bisnis strategis. Di antaranya mengincar para pemegang lahan (land owner).

Terbukti, dengan strategi tersebut, saat ini total kapitalisasi pasar (market capitalization) Pikko sudah mencapai angka Rp 5,7 triliun. Tidak termasuk tabungan lahan yang belum dikembangkan seluas lebih kurang 40 hektar di lokasi-lokasi premium.

"Kami akan mengambil setiap peluang, termasuk bila ada yang menawari lahan di lokasi-lokasi incaran dengan proyeksi profit potensial," ujar Nio Yantony kepada Kompas.com, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Koleksi lahan, merupakan salah satu strategi bisnis yang mereka tempuh. Dengan tabungan lahan yang cukup di berbagai lokasi premium, Pikko dapat memproyeksikan konsep, keuntungan, pay back periode dan lain-lain lebih mudah dan pasti. Dari total 40 hektar cadangan lahan tersebut, 26 hektar di antaranya berada di Kemayoran, Jakarta Pusat, 4 hektar di Kawasan Sudirman, 5 hektar di Bekasi Barat, sisanya di beberapa kota lainnya.

Strategi lainnya yang kian meneguhkan eksistensi mereka adalah menjalin aliansi dengan pengembang besar. "Kami memiliki keyakinan, sebuah proyek berpotensi lebih berkembang bila dikerjasamakan dengan pengembang besar, maka kami putuskan untuk berkongsi. Dengan bekerjasama, risiko dan keuntungan dapat dibagi," jelas Nio.

Dalam setiap proyek kerjasama dengan pengembang besar, porsi Pikko bukanlah mayoritas. Sebaliknya, bukan pula hanya "ban serep" pelengkap. Pikko akan mengambil peran lebih dengan proyeksi signifikan. Pola kerjasama seperti ini, aku Nio, lebih menguntungkan.

Pikko akan mengambil peran sebagai leader bila pihak kedua yang diajak kerjasama memiliki kemampuan dan level setara. Sebut saja untuk proyek Sahid Sudirman Center. Ini merupakan proyek perkantoran jangkung pertama setinggi 52 lantai, di mana Pikko menjadi pemimpin. Mitra strategis yang terlibat dalam proyek ini adalah Sahid Group dan Dua Mutiara Group.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.