"Pusat Mata-mata", Bisnis yang Jadi Primadona

Kompas.com - 12/06/2013, 15:34 WIB
|
EditorHilda B Alexander

UTAH, KOMPAS.com — Bosan berinvestasi di apartemen dan ruang kantor? Cobalah sektor yang satu ini, data center (pusat data). Pusat data atau beken disebut pusat "kegiatan mata-mata" tengah menjadi primadona.

Menurut Cushman and Wakefield, pasokan pusat data tumbuh 75 persen di 20 kota di Amerika Serikat. Lebih dari separuh pasar tersebut mengalami defisit pasokan pusat data. Dus, biaya konstruksi sama besarnya dengan membangun sebuah gedung apartemen atau hotel. Akan tetapi, bisnis "mata-mata" ini sejatinya tak membutuhkan fisik ruang yang besar. Ruang mungil pun tak mengapa, asal dilengkapi dengan pasokan listrik, pengatur suhu ruang, dan juga sistem keamanan.

Managing Director Jones Lang LaSalle AS, Bo Bond, mengatakan, permintaan pusat data di Amerika Serikat saat ini melebihi jumlah pasokan yang ada. Dan, hal itu terus meningkat setelah National Security Agency (NSA) mengoperasikan pusat data terbarunya di Utah senilai 1,2 miliar dollar AS atau setara Rp 11,7 triliun. Markas "telik sandi" negara ini dipercaya para ahli akan memainkan peran kunci dalam program kontroversial mereka, yakni memata-matai warganya secara lebih intensif.

Fasilitas pusat data di Utah hanyalah salah satu dari beberapa proyek pembangunan pemerintah. Belum setahun usia Utah Data Center, NSA sudah memulai konstruksi pusat data terbaru lagi, yakni di Fort Meade, Maryland, senilai 860 juta dollar AS (Rp 8,4 triliun). Proyek ini akan mencakup 600.000 kaki persegi, termasuk lebih dari 70.000 kaki persegi ruang teknis.

Lepas dari itu, dinamika dan preferensi pasar memang mengarah ke sana. Gerakan menuju komputasi awan, geliatnya sebagus peningkatan bisnis kompilasi data berbasis teknologi komunikasi dan internet. Nah, industri pusat data inilah yang saat ini paling pesat pertumbuhannya.

Bahkan, International Data Corporation baru-baru ini memperkirakan bahwa teknologi dan pasar jasa pemasok pusat data akan tumbuh 31,7 persen untuk beberapa tahun ke depan. Berkembang menjadi sebuah bisnis senilai 23,8 miliar dollar AS (Rp 233,1 triliun) pada tahun 2016. Volume lalu lintas internet global juga diperkirakan meningkat empat kali lipat sepanjang 2010-2015.

Sekali saja instansi pemerintah dan perusahaan besar membangun pusat data mereka sendiri, akan semakin banyak perusahaan yang memilih untuk mengonversi struktur yang ada menjadi pusat data. Seperti yang dilakukan Sears Holdings. Mereka telah mengumumkan pembentukan divisi baru, Ubiquity Critical Environments, yang awalnya merupakan gerai Sears dan Kmart menjadi pusat data.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X