JAKARTA, KOMPAS.com — Kendati secara global pertumbuhan harga hunian mengalami perlambatan, tetapi Jakarta tetap merupakan pasar terpanas di dunia. Harga rumah, terutama kelas mewah, terus konsisten memimpin pertumbuhan.
Selama kuartal III-2013, akselerasi harganya mencapai 27,2 persen, mengalahkan pertumbuhan harga rumah di Dubai (Uni Emirat Arab), Beijing (China), Bangkok (Thailand), dan Tokyo (Jepang).
Sebaliknya Singapura, Roma (Italia), Paris (Perancis), Geneva (Swiss), dan Zurich (Swiss) berada di posisi lima terbawah dengan mencatat penurunan terkuat sebesar 7,7 persen.
Demikian hasil riset The Prime Global Cities Index yang dilakukan lembaga konsultan sektor properti, Knight Frank, yang memantau konstelasi sektor properti perumahan selama Januari-September 2013.
Sementara itu, harga rerata rumah di kawasan Timur Tengah melonjak 13,1 persen selama 12 bulan terakhir.
Indeks tersebut juga memperlihatkan pertumbuhan saat ini 31 persen lebih tinggi ketimbang angka terendah yang dicapai selama periode yang sama pada 2009 silam.
"Usai krisis di zona Eropa mereda, kepercayaan ekonomi mulai membaik. Khususnya di pasar berpengaruh seperti AS, Inggris, dan Jerman, serta pasar keuangan yang menawarkan sedikit keuntungan, nafsu berbelanja sandang, pangan, dan juga hunian mewah kembali meningkat," ujar Kepala Riset Residensial Internasional, Knight Frank Kate Everett.
Secara keseluruhan, harga perumahan mewah global memang melemah selama kuartal ketiga tahun ini. Kondisi terlemah sejak kenaikan berturut-turut selama empat kuartal tahun 2012.
Kenaikan harga rumah di 27 kota utama yang dijadikan obyek riset hanya tercatat 1,2 persen. Perlambatan sebagian dikaitkan dengan lemahnya aktivitas penjualan pada bulan-bulan musim panas dan selama Ramadhan.