Arsitek Indonesia Kini... - Kompas.com

Arsitek Indonesia Kini...

Hilda B Alexander
Kompas.com - 16/07/2017, 23:31 WIB
Arsitektur Masjid Jami Air Tiris di Kabupaten Kampar, Riau, disebut mengikuti arsitektur Masjid Demak. Foto diambil Jumat (26/5/2017).KOMPAS.com/Ridwan Aji Pitoko Arsitektur Masjid Jami Air Tiris di Kabupaten Kampar, Riau, disebut mengikuti arsitektur Masjid Demak. Foto diambil Jumat (26/5/2017).

JAKARTA, KompasProperti - Setelah diperjuangkan selama lebih kurang 12 tahun, Undang-undang (UU) Arsitek akhirnya disahkan DPR RI pada Selasa (11/7/2017) lalu. Beleid baru ini, sekaligus menegaskan posisi arsitek dalam konstelasi kehidupan Negeri ini.

Baca: UU Arsitek Resmi Disahkan

Menurut Ketua Badan Pelestarian Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Aditya W Fitrianto, UU Arsitek bisa dianggap sebagai bentuk pengakuan profesi arsitek sebagai penyelanggara dan penanggung jawab perkembangan dunia arsitektur di Indonesia.

"Arsitek kini juga menjadi jelas posisinya sebagai sosok perancang dunia arsitektur dan bukan insinyur. Karena memang berbeda dalam proses pembelajaran maupun pengembangannya," kata Aditya kepada KompasProperti, Minggu (16/7/2017).

Aditya kemudian mengungkapkan pendapatnya terkait keberadaan UU Arsitek dan bagaimana nasib arsitek sekarang. Berikut pendapatnya:

Tak hanya semakin jelas posisi dan kekuatan hukumnya, arsitek kini juga diminta mengurus diri dan kalangannya sendiri, dengan mulai membentuk Dewan Arsitek Indonesia (DAI).

Lembaga mandiri dan independen ini akan menjadi satu-satunya pemberi nilai seseorang layak menjadi arsitek berkompeten atau tidak.

Nantinya DAI akan mengeluarkan Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA), dulu disebut Sertikat Keahlian (SKA) Arsitek.

Dengan STRA ini, masyarakat umum akan merasa lebih dilindungi jika menggunakan jasa arsitek yang berkompeten. Karena nanti tidak sembarang orang dapat memiliki STRA seperti kondisi sekarang.

Organisasi profesi IAI pun mendapat pengakuan dan menjadi satu-satunya lembaga penaung para arsitek dan berkewajiban membentuk DAI.

DAI akan bekerja sama dengan Asosiasi Perguruan Tinggi Arsitektur se-Indonesia (APTARI) dalam membentuk lembaga mandiri dalam memberikan akreditasi dalam dunia arsitektu .

Sementara itu, arsitek atau orang yang bergerak dalam pembangunan dan pengembangan arsitektur tradisional lokal sengaja tidak diatur dalam UU ini.

Hal ini diputuskan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka untuk tetap dapat terus berkarya dalam memajukan budaya dan pelestarian berkelanjutan kearifan lokal Nusantara.

Pendek kata, hadirnya UU Arsitek ini memberikan angin segar. Tidak hanya bagi para arsitek, dunia arsitektur, juga kalangan industri properti pada umumnya.

Yang terpenting, regulasi ini memberikan jaminan dan kekuatan hukum para pelaku arsitektur dalam menghadirkan karya arsitektur di Indonesia.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisHilda B Alexander
EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X