Sabtu, 2 Agustus 2014
Figur
Chandra Tambayong: Dari Apartemen di Bandung ke Superblok Solo Paragon
Penulis : Robert Adhi Ksp | Kamis, 20 Mei 2010 | 21:33 WIB
|
Share:
Robert Adhi Ksp/KOMPAS
Chandra Tambayong
TERKAIT:

KOMPAS.com - SOLO Paragon adalah superblok pertama di Jawa Tengah. Superblok yang berlokasi di jantung Kota Solo ini terdiri dari apartemen, kondotel, dan pusat perbelanjaan di lahan seluas 4,1 hektar.  

Kehadiran Solo Paragon merupakan tonggak penting dalam industri properti di Solo dan Jawa Tengah.  Salah satu orang yang berada di balik Solo Paragon adalah Chandra Tambayong (50), pengusaha properti yang sukses. Di Bandung, Chandra membangun tiga apartemen The Majesty (di Jalan Surya Sumantri, samping kampus Universitas Kristen Maranatha), Grand Setiabudi Apartment & Hotel, dan Galeri Ciumbeuleuit. Di tiga apartemen tersebut, Chandra menjadi Presiden Komisaris.
 
Chandra Tambayong memang pekerja keras. Lahir di Jakarta 2 Maret 1960 sebagai anak keenam dari 10 bersaudara, Chandra sejak kecil sudah terbiasa dengan kehidupan berdagang. Di rumah toko, tempat ayah ibu dan kakak adiknya tinggal itu, ada tempat penjualan kebutuhan pokok atau sembako.

“Dulu saya melihat teman tinggal di rumah, saya sempat berpikir saya kok tinggal di rumah toko. Ternyata ada manfaatnya hidup dalam suasana dagang. Ini jalan Tuhan yang mempersiapkan saya menjadi seperti sekarang ini. Insting bisnis terasah sejak kecil. Dan itu membuat saya terbiasa melihat sesuatu menjadi peluang,” cerita Chandra Tambayong yang menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMP Kristen dan SMAK Pintu Air, Jakarta.

Chandra pernah mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Yayasan Persada Indonesia, di Kelapa Gading dan mengambil Fakultas Psikologi, namun di tengah jalan, ia merasa dunia itu bukan dunianya. Chandra pun tidak menyelesaikan kuliahnya, dan memilih menjadi wirausaha. Chandra memulainya dengan melanjutkan usaha dagang sembako milik ayahnya.

Setelah menikah dengan Susiani Margono, putri Gunarso Margono (pemilik Grup Gapura Prima) 9 Desember 1984, Chandra pun terjun dalam bisnis properti. Dari pernikahannya dengan Susiani, Chandra memiliki empat orang anak yaitu Jessica Tji (24), Yohanes (21), Joshua (18), dan Yonathan (14). Putrinya, Jessica, mulai terjun dalam bisnis properti, dan kini Direktur Solo Paragon.

Chandra memulai bisnis properti pada tahun 1985, ketika mendapat order borongan untuk membebaskan tanah di daerah Bekasi dari Grup Ciputra. “Waktu itu saya yang meng-handle proyek pembebasan tanah seluas 60 hektar itu. Di sana saya sering bertemu dengan banyak orang-orang Ciputra. Dari sana tercetus ide, mengapa kami tidak membebaskan tanah dan membangun rumah?” cerita Chandra.

Tahun 1985 itu juga, Chandra membebaskan lahan seluas 50 hektar di Bekasi, dan membangun perumahan Pondok Hijau Permai. Itu merupakan proyek properti pertama yang ditangani Chandra dan berjalan dengan sukses. Perumahan Pondok Hijau Permai merupakan proyek properti kedua Gapura Prima milik Gunarso Margono, mertua Chandra.

Sejak itu Chandra melebarkan sayap bisnis propertinya. Dia pindah ke Bandung dan mendirikan perusahaan sendiri, Abadi Mukti Kirana, cikal bakal Bandung Inti Graha sekarang.

Bekerja sama dengan sejumlah mitra, Chandra membangun tiga apartemen di Bandung, dan satu di Jatinangor (Sumedang). Di sini, Chandra membangun Jatinangor Town Square (Jatos) yang ternyata sangat membantu masyarakat setempat berbelanja pakaian dan bahan pokok lainnya. Awal Juni, apartemen terbarunya, Pinewood, mulai dibangun di Jatinangor.

Di Solo, Chandra bermitra dengan sejumlah pengusaha, membangun Solo Grand Mall, Pusat Grosir Solo, dan kini Solo Paragon.

Berikut ini wawancara khusus Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Chandra Tambayong, Presiden Direktur Solo Paragon di kantornya di Kota Solo, Kamis (20/5/10) sore.

Mengapa Anda membangun superblok Solo Paragon?
Sebenarnya kami tidak terlalu bernafsu membangun superblok Solo Paragon. Tapi melihat Pak Walikota Solo yang begitu bersemangat dan siap membantu proses perizinan, kami seperti mendapat suntikan semangat ekstra. Jarang sekali saya bertemu Walikota seperti Joko Widodo, yang ramah investasi dan sangat welcome.

Anda percaya diri bahwa Solo Paragon bakal sukses...
Saya berpendapat Kota Solo masih butuh mal. Memang sudah ada Solo Grand Mall dan  Solo Square, tapi masih memungkinkan menambah satu mal. Dan Solo Paragon berbeda karena lebih bernuansa mal gaya hidup.

Solo Paragon dibangun Bandung Inti Graha (BIG) bersama Ibu Imelda dari Grup Sun Motor, Sunindo Primaland. Kami mengembangkan konsep mix-used development yang menggabungkan konsep luxury apartment, citywalk, dan lifestyle mall. Konsep ini merupakan yang pertama di Jawa Tengah.

Spiritnya, pengusaha bukan melulu money oriented. Problem di perkotaan kan transportasi, polusi. Dengan  adanya mal yang representatif, orang Solo dan sekitarnya tidak harus ke Yogyakarta. Tidak perlu harus menempuh satu jam untuk ke Yogyakarta, hanya untuk menikmati hiburan. Ini berarti masyarakat Solo Raya dapat menghemat biaya. Jadi ada sesuatu yang dilakukan untuk masyarakat dan Pemkot Solo. Ini semacam ibadah.

Contoh lainnya Jatinangor Town Square.  Sejak Jatos dibangun, masyarakat sekitar menyambut baik, termasuk para mahasiswa di sana. Karena mereka tak perlu lagi ke Bandung untuk membeli kebutuhan karena menghabiskan biaya dan waktu.

Anda merupakan pelopor karena selalu membangun di daerah baru..
Saya jarang sekali ambil proyek di daerah ramai. Saya lebih suka membangun di daerah yang belum ada proyek, seperti misalnya menjadi pelopor pengembang yang membangun apartemen di Bandung dan Jatinangor, dan membangun mal di Solo.

Sebetulnya membangun hal yang baru di daerah baru kan risiko, tapi kami melihatnya dari segi manfaat. Jadi ini bukan risiko, tapi ini peluang. Anda tahu lahan yang digunakan untuk kawasan Jatos itu sebelumnya lahan pembuangan sampah seluas 3 hektar. Saya melihat tanah kosong itu tidak dimanfaatkan oleh pemiliknya.  Lalu saya beli tanah itu. Orang lain mungkin berpikir, kok ada orang gila beli tanah pembuangan sampah? Sekarang di atas tanah itu, berdiri Jatinangor Town Square dan akan dibangun apartemen Pinewood.

Bandung Inti Graha atau disingkat menjadi BIG memang pelopor. Ini sesuai motto perusahaan ini, where the innovation starts. Bagaimana inovasi dimulai.  BIG adalah pelopor pembangunan apartemen di Bandung sejak tahun 2003.

Saya berpendapat bahwa tren hunian vertikal bukan sesuatu yang tidak disukai. Hanya belum ada. Karena itu ketika kami membangun The Majesty di Jalan Surya Sumantri, dekat Pasteur, samping kampus Universitas Kristen Maranatha, respon masyarakat Bandung sangat antusias. Pasarnya sudah jelas: orang tua mahasiswa.

Pada tahun yang sama, kami membangun satu menara Grand Setiabudi Apartment dan Hotel yang bernuansa butik dan kemudian Galeri Ciumbeuluit di dekat kampus Unpar.. Saya bermitra dengan pengusaha Bandung.  Dan tahun 2006-2007, kami mulai membangun Jatinangor.

Bagaimana Anda bisa melihat tanah kosong yang tak bermanfaat bisa dijadikan peluang bisnis yang luar biasa?
Ini bisa karena biasa. Dan memang ini sudah menjadi pekerjaan saya sejak dulu. Jadi ide datang begitu saja, plek, datang tiba tiba. Dan ide yang datang tiba-tiba itu bisa direalisasikan, seperti Solo Paragon ini.

Bagaimana perkembangan Solo Paragon saat ini?
Kini Solo Paragon yang mulai dibangun Juli 2008, mulai menunjukkan bentuknya. Setidaknya apartemen berlantai 24 sudah berdiri megah dan dalam tahap penyelesaian akhir. Bulan September 2010, apartemen tertinggi di Jawa Tengah ini sudah dapat digunakan.

Apartemen ini terdiri dari 237 unit kondotel dan 208 unit residences. Seratus persen kondotel sudah habis terjual, sedangkan residences 80 persen. Sebagian besar pembeli, 80 persen  merupakan masyarakat Solo Raya, sisanya dari Jakarta dan daerah lainnya.  Selain pejabat, pengusaha, pembeli unit apartemen dan kondotel adalah kalangan profesional seperti dokter.
 
Kondotel akan dioperasikan oleh Tauzia, yang dikenal dengan brand hotel Harris. Namun di Solo Paragon, hotel ini tidak membawa brand Harris, tetapi mengedepankan nama Solo Paragon.

Di bawah apartemen itu, dibangun pusat perbelanjaan, mal bernuansa gaya hidup. Mal ini akan beroperasi akhir tahun 2011. Sejumlah penyewa yang memastikan akan hadir di Solo Paragon adalah XXI, Ace Hardware, Index, dan beberapa brand terkenal lainnya.

Sebelum menjadi pemain properti di Solo, Anda pemain properti di Bandung. Kapan Anda memulai bisnis properti?  
Tahun 1988, saya menetap di Bandung dan melihat peluang ke arah itu. Awalnya saya adalah pemborong di Margahayu Raya. Setelah proyek Margahayu Raya selesai,  saya mengembangkan bisnis properti sendiri di Bandung Barat, yaitu Permata Cimahi, perumahan BTN, juga kompleks perumahan IPTN,  Bukit Permata Cimahi.

Setelah itu saya mengambil alih beberapa proyek perumahan, misalnya Bumi Paku Sarakan di Bandung Barat, Mutiara Cibabat, Taman Bunga Cilame, Tani Mulya Indah. Saya membangun juga perumahan Rahayu Garden pada tahun 1990-an di Bandung (dekat Hollis).

Saya juga membangun perumahan eksklusif Grahapuspa Bandung dan perumahan Permata Harjamukti di Cirebon.

Setelah krisis moneter, banyak perusahaan properti yang mati. Banyak pengusaha kelas atas kolaps dan tersangkut kasus dengan BPPN. Di situ, saya melihat terjadi kekosongan commercial area. Saya melihat ada peluang yang kosong, Maka pada tahun 2001-2002, saya mulai membangun Bandung Trade Center Fashion Mall  di Jalan Pasteur. Dalam proyek ini, saya bermitra dengan Herlan Hermawan, pengusaha garmen.

Setelah Bandung Trade Center sukses, Anda melirik Solo. Bagaimana Anda bisa ke Solo?

Tahun 2005 saya ke Solo. Sebenarnya ini hanya karena perkawanan. Tidak hunting khusus. Ada kawan yang mengajak saya membangun semacam BTC. Saya melihat Kota Solo belum memiliki pusat komersial.

Walaupun Solo dikenal sebagai sumbu pendek, tapi saya sebagai pebisnis yakin bahwa secara umum, warga kota itu tidak ingin kota mereka chaos. Saya membangun Solo Grand Mall, bermitra dengan pemilik Adem Ayem, Willy Herlambang dan ayahnya Sucipto Herlambang.

Tahun 2006-2007, saya mengembangkan Pusat Grosir Solo. Saya melihat komunitas Klewer dengan potensi yang besar. Pusat Grosir Solo mendapatkan sambutan cukup luas dari masyarakat. Pada proyek ini, saya bermitra dengan Willy  Herlambang dan Kenneth Lie, pengusaha Jakarta.

Setelah Solo Paragon, proyek properti apa lagi yang akan Anda kerjakan?
Sekarang kami menyelesaikan proyek Solo Paragon dulu. Setelah itu stop dulu. Ternyata ada lelahnya juga.

Saya sudah 25 tahun di bidang propeti. Capek juga. Sekarang mau urus keluarga karena hampir lupa. Saya juga giat berolah raga bulutangkis demi kesehatan. Dalam permainana bulutangkis, kita mau keras, mau ringan, berlaku cerdik, semua ada di sana

Dari pengalaman Anda terjun dalam bisnis properti, kesulitan apa yang paling sering dihadapi?
Kesulitan yang paling sering dihadapi adalah masalah birokrasi perizinan dan juga faktor teknik di lapangan. Kontur tanah di Bandung misalnya, tidak seperti di Solo dan Bekasi yang flat.

Namun demikian, saya berkeyakinan untuk mencapai sukses butuh perjuangan, ada harga yang mesti dibayar, dan tak ada yang gratis. Karena itu kesulitan dan kesusahan apa pun harus dihadapi, karena itu tanda-tanda kesuksesan, Kalau you tak lewati kesulitan, you tak bakalan naik ke atas.

Komentar Anda tentang birokrasi di Solo?

Saya berpendapat proses perizinan di Solo cukup bagus. Ini patut dicontoh kota-kota lainnya. Mengurus IMB nya seperti membeli tiket SQ. Dan menurut Pak Walikota Joko Widodo, karena pengurusan IMB transparan, income-nya  double karena makin banyak orang yang datang.

Dan saya kira wajar bila Joko Widodo terpilih lagi menjadi Walikota Solo. Bayangkan, tanpa baliho di mana-mana dengan sedikit kampanye, Jokowi bisa menang lagi. Beliau Walikota yang patut dicontoh.
 
Dan saya ingin menegaskan kembali, Solo Paragon ini dibangun karena Walikota nya sangat welcome. Joko Widodo sangat ramah ivestasi sehingga ini benar-benar menambah semangat, ekstra semangat. Belum pernah saya berjumpa dengan walikota seperti Jokowi. (Robert Adhi Ksp)


Editor :
ksp