Kamis, 23 Oktober 2014
TREN PROPERTI
Orang Miskin Tak Bisa Hidup di Brooklyn!
Penulis : Hilda B Alexander | Jumat, 13 September 2013 | 16:17 WIB
|
Share:
www.nydailynews.com
Harga sewa apartemen di kawasan Brooklyn, Amerika Serikat, meningkat lebih tinggi ketimbang Manhattan. Akibatnya, kelas menengah dan bawah meninggalkan kawasan ini ke tempat yang lebih murah.
NEW YORK, KOMPAS.com — Tak lama lagi, tak seorang pun yang berasal dari kalangan kelas menengah bawah sanggup menetap di Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Pasalnya, biaya sewa apartemen sudah semahal Manhattan. Disparitas harga sewa yang sebelumnya cukup besar, kini menyempit menjadi hanya 300 dollar AS (Rp 3,4 juta).

Laporan Douglas Elliman menyebutkan, per Agustus lalu, harga sewa apartemen ukuran satu kamar tidur di Brooklyn sudah mencapai level2.850 dollar AS (Rp 32,3 juta) per bulan atau naik 4,6 persen dibanding Agustus 2012, sedangkan harga sewa apartemen dua kamar tidur melonjak 30 persen menjadi 3.257 dollar AS (Rp 37 juta). Ini merupakan angka tertinggi sejak 2008.

Kawasan utara dan barat laut Brooklyn dilaporkan mengalami pertumbuhan harga sewa tertinggi. Kawasan tersebut mencakup Greenpoint, Williamsburg, Cobble Hill, dan Brooklyn Heights. Akselerasi harga sewanya terjadi lebih cepat ketimbang di Manhattan.

Tingginya harga sewa tersebut telah memakan "korban". Salah satunya adalah Joe Ammon. Pemuda 28 tahun ini meninggalkan East Village setelah lulus dari New York University pada 2007. Saat ia pindah ke sebuah apartemen dengan satu kamar tidur di Greenpoint, harga sewanya masih 1.550 dollar AS (Rp 17,6 juta). Sekarang, harga sewanya meningkat 4 persen menjadi 1.620 dollar AS (Rp 18,4 juta).

Menurut Elliman, Joe masih terhitung beruntung karena harga sewa di tempat lainnya justru melompat 10 persen. Jadi, jangan berharap bisa mendapatkan apartemen dengan harga sewa rendah di Brooklyn saat ini.

Fenomena Brooklyn tak selalu dilihat negatif. Kawasan lain di kota New York yang selama ini terlupakan justru menjadi incaran. Sebut saja Queens yang mengalami peningkatan permintaan lumayan pesat.

Manhattan sendiri, yang populer sebagai distrik keuangan dan kebudayaan, mencatat rerata harga sewa sebesar 3.150 dollar AS (Rp 35,7 juta) atau hanya beranjak 1,8 persen. Tingginya harga sewa di kawasan ini menyisakan tingkat kekosongan sekitar 1,31 persen pada Agustus lalu. Jumlah ini sedikit lebih tinggi dibanding kekosongan bulan Juli yakni 1,28 persen.

"Tingkat kekosongan terus beranjak naik. Jika hal ini terus berlanjut, akan sangat baik untuk penyewa karena kemungkinan harga sewa akan turun," ujar President of Citi Habitat, Gary Malin.