JAKARTA, KOMPAS.com - Larangan mudik Lebaran 2021 nyatanya tak mampu mengangkat tingkat okupansi bulanan hotel di Jakarta atau masih stagnan pada level 40 persen.
Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, keterisian hotel hanya mengalami peningkatan sesaat atau pada libur Lebaran Mei lalu.
"Tapi sebenarnya, momentum ini terjadi. Jadi, tidak salah juga prediksi kami, cuma memang sifatnya sesaat yaitu pada libur Lebaran saja," ujar Ferry dalam laporan yang diterima Kompas.com, Kamis (08/07/2021).
Hal ini lantaran kegiatan di hotel sangat minim serta kebijakan work from home (WFH) atau kerja dari rumah yang memberikan peluang orang melakukan perjalanan sebelum adanya larangan mudik.
Baca juga: 11 Kali Pembatasan, PHRI Minta Pemerintah Serius Tangani Covid-19
Namun demikian, keterisian okupansi hotel di Jakarta pada Mei lalu sudah sama seperti Tahun 2019.
Ini artinya, tingkat okupansi naik hingga 20 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2020.
Tahun ini, kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) sudah mulai meningkat seperti resepsi pernikahan, sosial, dan lain sebagainya.
Hingga Kuartal-II 2021, tarif rata-rata harian atau average daily rate (ADR) dan tarif rata-rata okupansi hotel di Jakarta sekitar 45 dollar AS atau setara Rp 654.121.
Ferry berharap, tren kenaikan okupansi hotel di Jakarta bisa terus stabil. Artinya, Pemerintah tidak terus-menerus mengambil kebijakan rem darurat.
"Sehingga, ekonomi menjadi mandek. Nah, kemungkinan proyeksi (kestabilan) itu tidak terjadi," ucap dia.
Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & KetentuanPeriksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.