Meski Ada Pembatasan, Okupansi Hotel di Jakarta Tetap Stagnan

Kompas.com - 08/07/2021, 19:00 WIB
Ilustrasi hotel. shutterstock.comIlustrasi hotel.

JAKARTA, KOMPAS.com - Larangan mudik Lebaran 2021 nyatanya tak mampu mengangkat tingkat okupansi bulanan hotel di Jakarta atau masih stagnan pada level 40 persen.

Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, keterisian hotel hanya mengalami peningkatan sesaat atau pada libur Lebaran Mei lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tapi sebenarnya, momentum ini terjadi. Jadi, tidak salah juga prediksi kami, cuma memang sifatnya sesaat yaitu pada libur Lebaran saja," ujar Ferry dalam laporan yang diterima Kompas.com, Kamis (08/07/2021).

Hal ini lantaran kegiatan di hotel sangat minim serta kebijakan work from home (WFH) atau kerja dari rumah yang memberikan peluang orang melakukan perjalanan sebelum adanya larangan mudik.

Baca juga: 11 Kali Pembatasan, PHRI Minta Pemerintah Serius Tangani Covid-19

Namun demikian, keterisian okupansi hotel di Jakarta pada Mei lalu sudah sama seperti Tahun 2019.

Ini artinya, tingkat okupansi naik hingga 20 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2020.

Tahun ini, kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) sudah mulai meningkat seperti resepsi pernikahan, sosial, dan lain sebagainya.

Hingga Kuartal-II 2021, tarif rata-rata harian atau average daily rate (ADR) dan tarif rata-rata okupansi hotel di Jakarta sekitar 45 dollar AS atau setara Rp 654.121.

Ferry berharap, tren kenaikan okupansi hotel di Jakarta bisa terus stabil. Artinya, Pemerintah tidak terus-menerus mengambil kebijakan rem darurat.

"Sehingga, ekonomi menjadi mandek. Nah, kemungkinan proyeksi (kestabilan) itu tidak terjadi," ucap dia.

Ada beberapa strategi yang dilakukan para hotelier (manajemen hotel) dalam mengoptimalkan kinerja mereka.

Strategi tersebut di antaranya bekerja sama dengan Pemerintah sebagai repatriasi hotel atau tempat karantina Warga Negara Indonesia (WNI) yang baru pulang dari luar negeri, isolasi, dan lain-lain.

Manajemen hotel juga mengoptimalkan divisi lainnya untuk memperoleh revenue (pendapatan) misalnya, food & beverages (F&B) berupa menu katering spesial dari hotel tersebut.

"Tapi memang room revenue itu masih mendominasi. Paling tidak, ini (F&B) sedikit membantu operasional dari hotel," tutup Ferry.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.