Pasokan Apartemen Jakarta Seret, Hanya Satu Proyek Keluaran China Railway Group

Kompas.com - 08/07/2021, 13:38 WIB
Ilustrasi apartemen. Apartemen menjadi alternatif hunian di tengah keterbatasan lahan perkotaan ShutterstockIlustrasi apartemen. Apartemen menjadi alternatif hunian di tengah keterbatasan lahan perkotaan

JAKARTA, KOMPAS.com - Hanya terdapat satu proyek apartemen kelas atas di area Central Business District (CBD) Mega Kuningan yang diluncurkan pada Kuartal II tahun 2021 yaitu Diamond Tower.

Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan hal ini dalam laporan yang diterima Kompas.com, Kamis (08/07/2021).

"Pada kuartal ini baru satu proyek saja yang diperkenalkan, ada di daerah CBD Mega Kuningan namanya Diamond Tower. Nah, ini satu-satunya," jelas Ferry.

Proyek ini dikembangkan oleh perusahaan yang membangun proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) yakni China Railway Group Limited.

Diamond Tower dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi dengan tinggi 49 lantai dan ditawarkan sebanyak 200 unit apartemen.

Baca juga: Enam Apartemen Termahal di Asia, Beberapa Anggota BTS Tinggal di Sini

Ferry mengungkapkan, proyek apartemen biasanya masif diperkenalkan pengembang pada periode tersebut. Namun, tahun ini justru berbeda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal ini mencerminkan kondisi para pengembang yang menahan diri untuk tidak terlalu agresif dalam membangun proyek baru.

Pada tahun lalu, total pasokan apartemen di Jakarta hanya mencapai 2.698 unit. Sementara tahun ini naik tipis menjadi 3.672 unit yang berasal dari tujuh proyek.

Adapun dari jumlah pasok apartemen tersebut, hanya satu apartemen yang telah dilakukan serah terima pada tahun ini.

Hingga Kuartal II, proyek apartemen yang telah terserap baru mencapai 575 unit. Sementara sepanjang tahun 2020, serapan apartemen mencapai 1.927 unit.

Ferry mengatakan, jumlah ini tidak sampai 50 persen dari serapan proyek apartemen pada tahun lalu.

Sementara dari harga jual, kata Ferry, tidak mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu atau stagnan yaitu sebesar Rp 35 juta per meter persegi.

"Tidak ada kenaikan sama harga jual sama sekali, sehingga tetap stabil di angka Rp 35 juta per meter persegi," pungkas Ferry.

Hal ini terdapat lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia dengan adanya varian Delta sekaligus Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali oleh Pemerintah.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X