Indonesia Kekurangan Spesialis Konstruksi, Mantan Dirjen Bina Marga Turun Gunung

Kompas.com - 01/12/2020, 15:00 WIB
Ilustrasi konstruksi. cammconstruction.comIlustrasi konstruksi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) periode 2016-2018 Arie Setiadi Moerwanto menjalani fit and proper test seleksi calon pengurus Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi (LPJK).

Seleksi calon pengurus LPJK tersebut digelar oleh Komisi V DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (1/12/2020).

Dalam paparannya, Arie menyampaikan, jasa konstruksi Indonesia saat ini kekurangan ahli dan badan usaha spesialis dalam menangani bidang tertentu.

Selama ini konstruksi dilakukan oleh ahli dan badan usaha umum yang tidak memiliki spesialisasi tertentu.

"Kita banyak memiliki tenaga ahli, kita banyak memiliki badan usaha, namun mohon maaf, kebanyakan adalah general contractor atau general expert dan ini tidak baik, karena akan bersaing di posisi tertentu," tutur Arie.

Baca juga: Peran LPJK Lebih Strategis, Menjalankan Sebagian Kewenangan Pusat

Arie menjamin, jika dirinya terpilih menjadi pengurus LPJK maka hal pertama yang akan dilakukan adalah mendorong terciptanya tenaga ahli dan badan usaha spesialis.

"Kita perlu menghasilkan ahli dan badan usaha jasa konstruksi yang sepesialis yang unggul di bidang tertentu," ujarnya.

Nantinya, LPJK dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan seperti universitas, tempat magang untuk dapat memberikan program khusus terkait keahlian spesialis kepada tenaga ahli yang ada saat ini.

Dengan semakin banyaknya tenaga ahli dan badan usaha spesialis, tentu saja akan berdampak positif pada banyak hal, misalnya efisiensi dan kemudahan dalam menjalankan konstruksi di lapangan.

"Jadi ini harus diberikan program khusus dengan lembaga pendidikan, kemudian tempat magang, dan kita akan link-kan dengan pemilik modal atau investor dan peralatan," katanya.

Selain itu, kemunculan tenaga ahli spesialis dianggap dapat menurunkan tingkat kecelakaan kerja.

Namun, hingga kini, belum ada ahli spesialis yang dapat membuat desain konstruksi sekaligus mengukur risiko potensi titik-titik rawan terjadinya kecelakaan kerja.

Beberapa tenaga ahli spesialis yang saat ini dibutuhkan adalah tenaga ahli spesialis safety, tenaga ahli spesialis environment, dan tenaga ahli spesialis forensik.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X