Pengembang Optimistis Bisnis Properti Bangkit Tahun Ini

Kompas.com - 06/02/2020, 15:00 WIB
Rumah123 menggelar acara Properti Outlook 2020, di Jakarta, Kamis (6/2/2020) KOMPAS.com/ ROSIANA H.Rumah123 menggelar acara Properti Outlook 2020, di Jakarta, Kamis (6/2/2020)

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal DPP Real Estat Indonesia (REI) Arman Nukman optimistis pasar properti tahun ini sangat menjanjikan, dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 8-9 persen.

"Angka pertumbuhan ini cukup menggembirakan," kata Arman dalam acara Property Outlook 2020 di Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Hal senada dikemukakan Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Widi Agustin.

Menurut Widi kebangkitan sektor properti didukung prospek ekonomi yang positif di level Nasional juga global secara umum.

Baca juga: Begini Proyeksi Sektor Properti Residensial Tahun 2020

Selain itu, perusahaan properti juga menunjukkan level kepercayaan diri yang kuat dan pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan pembiayaan.

"Bisa kita lihat bahwa kesepakatan dagang antara China dan Amerika Serikat membangun optimisme terhadap kondisi perekonomian dunia," ucap Widi.

Widi menyebut, perbaikan kondisi perekonomian di Indonesia, ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi, termasuk sektor konstruksi dan properti.

Pada kuartal IV-2019 saja, harga properti residensial menunjukkan penguatan yang dikontribusi oleh kenaikan harga rumah tipe kecil dan menengah.

Hal ini tak lepas dari sejumlah kebijakan yang diterbitkan Bank Indonesia (BI). Terbaru adalah tentang tambahan keringanan rasio LTV/FTV untuk pembiayaan properti yang berwawasan lingkungan sebesar 5 persen.

Baca juga: 2020 Sektor Properti Diprediksi Bangkit dari Mati Suri

Selain itu, penurunan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 100 basis poin sejak Juni 2019 menjadi 5 persen pada Oktober 2019.

Penurunan suku bunga acuan ini berdampak pada penurunan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Kemudian penurunaan Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah Bank Umum Konvensional dan Syariah/Unit Usaha Syariah sebesar 50 basis poin, masing-masing menjadi 5,5 persen dan 4,0 persen.

Paket kebijakan tersebut secara efektif meningkatkan permintaan properti.

"Membaiknya prospek ekonomi dan tumbuhnya kepercayaan dari korporasi, mendorong pertumbuhan pembiayaan, termasuk ke sektor properti di 2020. Demand masyarakat terhadap properti juga meningkat," tuntas Widi.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X