Anata Rupa, Gabungan Tipologi Anyaman Keberagaman Indonesia

Kompas.com - 05/12/2019, 18:38 WIB
Anneke Prasyanti Arsitek bhumi aras hospitality+design dan Johan Yang selaku Executive Vice President PT. Polymindo Permata saat mengisi talkshow di Bintaro Design District (BDD) Festival 2019, Kamis, (5/12/2019). Suhaiela Bahfein/Kompas.comAnneke Prasyanti Arsitek bhumi aras hospitality+design dan Johan Yang selaku Executive Vice President PT. Polymindo Permata saat mengisi talkshow di Bintaro Design District (BDD) Festival 2019, Kamis, (5/12/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Viro, merek dagang PT Polymindo Permata, bekerja sama dengan arsitek Anneke Prasyanti dan Dani Hermawan, memasang instalasi seni desain anyaman ‘Anata Rupa’ yang dipamerkan di Bintaro Design District (BDD) Festival 2019, Kamis, (5/12/2019).

Anata Rupa terdiri dari dua kata yaitu ‘Anata’ dan ‘Rupa’. ‘Anata’ memiliki makna filosofis yang artinya warna-warni, rasa hormat, dan perbedaan. Sedangkan, ‘Rupa’ bermakna bentuk.

Instalasi seni ini mengajak para pengunjung untuk menikmati indahnya perbedaan dengan tampilan seni anyaman berwarna-warni namun bisa berpadu menjadi satu ketika digabungkan.

Anneke yang mendesain tampilan instalasi seni Anata Rupa mengaku terinspirasi anyaman dari Pulau Lombok yang kemudian diterapkan pada warna keberagaman asli Indonesia yang mewakili empat suku di Indonesia, yaitu suku Batak, Sumba, Dayak, dan Bajo.

Baca juga: Inclusivity, Tema Bintaro Design District 2019

“Terinspirasi dari dinding rumah di Flores dan Lombok. Anyamamnya dibuat di Banten. Pekerjaan ini sudah kami lakukan sejak 3 bulan lalu. Anyaman lokal ini hanya ada di daerah pedalaman. Sementara ini kami bawa ke kota, untuk memperkenalkan anyaman daerah yang terinspirasi dari 4 suku di Indonesia yaitu Batak, Dayak, Sumba, dan Bajo,” terang Anneke saat mengisi talkshow di Bintaro Design District (BDD) 2019.

Untuk mendukung karya instalasi seni Anneke, dan Dani, perusahaan Viro yang berasal dari kata environment hadir sebagai penyedia solusi material inovatif dalam pelestarian budaya asli Indonesia, salah satunya produk anyaman.

“Sebagai perusahaan asli Indonesia dengan material inovatif untuk desain arsitektural dan interior, Viro bertanggung jawab untuk ikut andil dalam melestarikan budaya Indonesia, khususnya untuk budaya menganyam,” tambah Executive Vice President PT Polymindo Permata Johan Yang.

Karya Anneke dan Dani dapat dinikmati pengunjung hingga 7 Desember 2019 mendatang.

Adapun tema besar BDD kali ini yakni "Inclusivity" di mana arsitektur dan desain dipandang sebagai sebuah pendekatan yang mampu memberi solusi bagi berbagai persoalan ruang maupun kehidupan.

"Inclusivity" juga merupakan sebuah bentuk ajakan para arsitek dan desainer untuk merangkul para penyandang disabilitas agar mereka turut serta dalam membumikan seni arsitektur dan desain.

Tujuannya pun diharapkan agar mereka dapat melihat sekeliling ruang di mana berbagai macam persoalan yang selama ini tak pernah terpikirkan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X