Kompas.com - 31/10/2019, 19:51 WIB
Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil sebelum pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju serta pejabat setingkat menteri. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOMenteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil sebelum pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju serta pejabat setingkat menteri.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dan Kementerian Pertanian (Kementan) sepakat untuk memperbaiki data lahan baku sawah yang masih banyak terdapat perbedaan.

Kesepakatan tersebut diambil setelah Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan A Djalil bertemu dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di kantor Kementerian ATR, Kamis (31/10/2019).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Koordinasi yang kami lakukan ini untuk menyamakan data tentang lahan baku sawah yang beberapa waktu lalu ada perbedaan data yang dipublish BPS dengan perspektif Kementerian Pertanian," kata Sofyan dalam keterangan tertulis.

Baca juga: Kementerian ATR Akan Tambah Dirjen Baru

Sejauh ini, pemerintah telah melakukan verifikasi terhadap 20 provinsi yang menjadi penghasil beras utama atau lumbung padi nasional.

"Itu sudah diverifikasi dan sudah ada data yang disepakati bersama antara BPS, BIG, Kementerian Pertanian dan Kementerian ATR/BPN. Tapi karena masih hitung-hitungan akhir, mudah-mudahan tanggal 1 Desember 2019 bisa kita keluarkan angka finalnya atau data koreksi dari data yang sudah dipublish sebelumnya," ucapnya.

Sementara itu, Syahrul mengatakan, saat ini data yang digunakan pemerintah merupakan hasil dari citra satelit yang menggunakan resolusi yang sama. Sebelumnya, data sempat berbeda lantaran pencitraan satelit yang digunakan berbeda.

Kendati demikian, untuk data yang statusnya masih kuning masih dibutuhkan proses verifikasi ulang dengan menggunakan citra satelit.

Sementara, untuk data yang berwarna merah diperlukan verifikasi dengan cara turun ke lapangan.

"Insya Allah negara ini akan punya satu data tentang pertanian," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.