Tahun Depan, Bisnis Properti Masih Tertekan

Kompas.com - 16/10/2019, 19:38 WIB
Head of Advisory JLL Vivin Harsanto JLLHead of Advisory JLL Vivin Harsanto

JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun 2020, bisnis properti diprediksi masih belum menunjukkan pergerakan signifikan, kendati beberapa pengembang sudah mulai melansir proyek-proyek baru.

Hal ini menyusul kinerja sejumlah sub sektor yang mengalami tekanan, untuk tidak dikatakan stagnan.

Terutama perkantoran di area CBD Jakarta yang diserbu melimpahnya pasokan baru hingga 561.000 meter persegi hingga akhir tahun.

Sementara di sisi permintaan, tak juga mengalami peningkatan yakni hanya 174.000 meter persegi terserap sepanjang 2019. Bandingkan dengan tingkat serapan 2017-2018 yang mencapai 429.000 meter persegi.

Meskipun perusahaan-perusahaan berbasis teknologi dan informasi, perdagangan daring, serta pengelola ruang kerja bersama (co-working space) demikian ekspansif, namun tidak serta-merta mengatrol jumlah permintaan secara kumulatif.

Baca juga: Proyek Potensial yang Bisa Dibangun Pengembang di Ibu Kota Baru

Akibatnya, segmen rental atau sewa pun tertekan dan terus turun 1 persen menjadi rata-rata Rp 270.971 per meter persegi per bulan.

Berkaca pada kinerja perkantoran tersebut, tak keliru jika Head of Advisory JLL Vivin Harsanto mengatakan bisnis properti tahun depan belum akan pulih.

"Kami prediksi pemulihan baru terjadi pada 2021 mendatang, saat pasokan perkantoran berada di angka 200.000 meter persegi. Ini akan terjadi keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Tahun 2020 pasokan masih banyak ya sekitar 300.000 meter persegi," tutur Vivin menjawab Kompas.com, Rabu (16/10/2019).

Demikian halnya dengan sub sektor hunian, utamanya apartemen, yang terus melemah sejak 2016 hingga kuartal III-2019.

Bahkan, pada kuartal III-2019, tingkat penjualan apartemen hanya 64 persen dari total 159.000 unit pasokan. Atau terburuk sejak 2012.

Padahal, pemerintah telah menerapkan relaksasi terkait kebijakan fiskal, terutama pajak penjualan atas barang mewah (PPNBM) dan pelonggaran rasio loan to value (LTV) oleh Bank Indonesia untuk kredit pembiayaan properti sebesar 5 persen.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X