Jembatan Barelang dan Kenangan Habibie akan Batam

Kompas.com - 11/09/2019, 22:11 WIB
Jembatan Barelang merupakan salah satu ikon Kota Batam, Kepulauan Riau. Tidak sedikit wisman yang berkunjung ke Batam, pasti selalu menyempatkan diri ke jembatan tersebut. KOMPAS.com/HADI MAULANAJembatan Barelang merupakan salah satu ikon Kota Batam, Kepulauan Riau. Tidak sedikit wisman yang berkunjung ke Batam, pasti selalu menyempatkan diri ke jembatan tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com - Siapa tak tahu Jembatan Barelang yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau. Nama Barelang merupakan singkatan dari tiga pulau yang dihubungka jembatan tersebut yakni Batam, Rempang dan Galang.

Namun, tahukah Anda siapa penggagasnya?

Ia adalah Presiden ketiga RI BJ Habibie, yang baru saja meninggal dunia pada usia 83 tahun di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Sebagian masyarakat bahkan menyebut jembatan yang telah beroperasi sejak 22 tahun silam ini sebagai Jembatan Habibie.

Kecintaan Habibie pada kawasan ini buka tanpa alasan. Pada 1973, Presiden kedua RI Soeharto secara khusus memintanya untuk mengembangkan wilayah Batam setelah Pertamina tak berhasil melakukannya.

Baca juga: Menguji Ambisi Pollux Habibie Bangun Gedung Tertinggi

Namun sebelum menerima penugasan tersebut, Habibie memberikan syarat kepada Soeharto, bahwasannya konsep pengembangan Batam akan ia ubah. Batam harus dapat mengalahkan Singapura suatu saat.

Saat itu, ia berpikir, bahwa luas Batam yang hanya 75 persen dari luas Singapura, harus ditambah. Oleh karenanya, mantan Kepala Badan Otorita Batam itu memperluas wilayah Batam hingga ke pulau-pulau lain seperti Tonton, Nipah, Rempang, Galang dan Galang Baru, yang kemudian disambungkan dengan Jembatan Balerang.

Jembatan Barelang yang menjadi ikon pariwisata Kota Batam, dibangun dengan anggaran sekitar Rp 400 miliar sejak 1992.

Ratusan insinyur dalam negeri dikerahkan untuk menggarap salah satu proyek mercusuar berteknologi tinggi ini.

Kini setelah beroperasi, wisatawan yang ingin menyusuri jembatan ini dapat menggunakan kendaraan pribadi atau sewa untuk menikmati pemandangan alam di sekitarnya. Cara lainnya yakni dengan menggunakan Damri yang melintasi jembatan tersebut.

Baca juga: Pemerintah Kaji Dokumen Perencanaan Jembatan Batam-Bintan

Kenangan Habibie akan Batam terus terpatri hingga beberapa tahun terakhir. Batam selalu dan akan tetap istimewa di benaknya.

Oleh karena itu, ia dan keluarganya bersepakat untuk bekerja sama dengan pengembang properti PT Pollux Properties Indonesia Tbk, memajukan Batam menjadi kota terdepan.

Habibie dan Pollux, melalui perusahaan Pollux Habibie International mengembangkan konsep superblok bertajuk Meisterstadt Batam.

Proyek raksasa yang menelan investasi 1 miliar dollar AS atau Rp 14 triliun ini mencakup 11 menara yang terdiri dari 8 menara apartemen dengan 6.500 unit, pusat belanja, hotel, rumah sakit internasional, ruko komersial, dan perkantoran setinggi 100 lantai yang mencakup 350 meter.

Dalam laman resminya, Habibie mengatakan, Meisterstadt Batam merupakan salah satu realisasi dari pencapaian Batam menjadi yang terdepan.

“Batam tempat yang menawan bagi saya. Melalui pembangunan Meisterstadt, kita bangun kota Batam agar menjadi kota yang maju dan sempurna dari segala sisi. Meistestadt adalah wujud nyata berbagai proses perkembangan kota Batam," tutur Habibie.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X