Disrupsi Besar Bisnis Properti

Kompas.com - 18/08/2019, 16:38 WIB
Ilustrasi perkembangan digital ekonomi Indonesia pada 2020 ThinkstockIlustrasi perkembangan digital ekonomi Indonesia pada 2020

Pengembang properti pun tidak mau ketinggalan. Selain memperkuat aktifitas social media-nya, mereka pun mulai memanfaatkan digital media untuk menjaring minat beli konsumen. Jika dulu satu-satunya saluran yang secara spesifik menyasar pembeli properti adalah portal semacam Rumah123, Rumah.com dan Lamudi, kini mereka pun mulai melirik solusi berbayar lain.

Hal ini untuk menjaring inquiry yang ditawarkan oleh platform social media yang terbukti efektif dan efisien karena sifatnya cost per leads. Model cost per leads ini menjadi tawaran yang menggiurkan dan lebih minim risiko bagi mereka karena biaya baru dikeluarkan ketika inquiry terjaring.

Lepas dari kesahihan platform digital untuk menjaring calon pembeli melalui keterjangkauannya yang luar biasa luas namun tidak bisa dimungkiri bahwa properti adalah produk yang proses pembeliannya tidak bisa dilakukan 100 persen online.

Ini karena karakter produknya yang unik, setiap unit berbeda, baik beda posisi, beda hadap sehingga konsumen masih merasa wajib untuk mengunjungi dan merasakan dulu secara offline.

Dan untuk itu pulalah mengapa tidak kurang dari 85persen transaksi properti masih dilakukan melalui perantara, baik agen ataupun tenaga penjual. Berbeda dengan produk asuransi yang makin ke sini mulai melepaskan diri dari ketergantungan tenaga penjual melalui platform insuretech (insurance technology).

Kebutuhan akan adanya engagement dan touch point online pada tahap pencarian dan offline pada saat seleksi dan pembelian inilah yang sepertinya disambut oleh beberapa pemain seperti 99.co, Urbanace dan Spacestock.

Berbekal keberhasilan dari pemain sejenis di negara-negara maju seperti Compass dan Redfin di Amerika, Purplebricks di UK dan Lianjia di China, pemain-pemain pendatang baru ini pun menawarkan solusi holistik mulai dari digital platform untuk menjangkau lebih banyak konsumen pada tahap pencarian awal, kemudian dilanjutkan dengan engagement secara offline dengan tenaga-tenaga pemasar yang berafiliasi atau dimiliki mereka secara internal.

Keberhasilan Lianjia di China dalam membukukan nilai valuasi sebesar 13 miliar dollar AS baru-baru ini tampaknya membuktikan bahwa model ini patut diwaspadai, mengingat tidak banyak pemain yang bisa mencapai nilai valuasi pasar di atas 10 miliar dollar AS, apalagi hanya dari satu market.

Mempekerjakan 8.000 tenaga pemasar offline membuat Lianjia menjadi acuan sekaligus pesaing yang patut diwaspadai oleh pemain-pemain properti lainnya. Model bisnisnya yang menggabungkan online engagement dan offline agent membuatnya harus berhadap-hadapan dengan agen properti non digital maupun portal properti.

Dan untuk mereka yang ingin menjual hunian, baik pengembang ataupun pemilik rumah, solusi yang ditawarkan ini menjadi pilihan yang aman dan masuk akal karena satu-satunya biaya yang akan dibebankan kepada mereka adalah komisi dari tiap penjualan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X