Disrupsi Besar Bisnis Properti

Kompas.com - 18/08/2019, 16:38 WIB
Ilustrasi perkembangan digital ekonomi Indonesia pada 2020 ThinkstockIlustrasi perkembangan digital ekonomi Indonesia pada 2020

TEKNOLOGI  digital sudah mengubah cara kita mencari informasi dan membeli barang. Bagi Anda yang bekerja kantoran, mungkin sudah tidak aneh lagi melihat kebiasaan generasi milenial yang seringkali membawa laptop ke ruang meeting.

Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya yang pergi ke ruang meeting dengan hanya berbekal catatan dan pena. Hal ini dilakukan karena kebiasaan pekerja milenial yang selalu bergegas mencari di Google untuk setiap hal yang mereka tidak ketahui.

Pada awal kemunculan teknologi digital, banyak dari kita menduga bahwa ini hanya akan menjadi mainannya golongan menengah atas dan anak muda. Tapi fakta menunjukkan hal berbeda.

Kelompok yang condong dikategorikan menengah bawah pun ternyata sudah fasih dan mulai memanfaatkan teknologi digital dalam hidup dan pekerjaan mereka.

Kita menyaksikan bagaimana ratusan ribu atau bahkan jutaan pengemudi ojek menggantungkan hidupnya pada Gojek dan Grab. Kita juga mulai melihat bagaimana pemilik dan pengusaha warung dan warteg mulai menggunakan aplikasi seperti Wahyoo, Warung Pintar.

Warung kelontong pun tidak luput dari sasaran pemain-pemain digital seperti Kudo, Bukalapak dan Tokopedia. Petani di pedesaan pun juga mulai bisa meningkatkan penghasilannya dengan memotong mata rantai distribusi, terhubung dengan Tanihub, Regopantes dan Sayurbox.

Begitu juga dengan nelayan yang kini bisa terhubung dengan platform seperti Pasarlaut dan aruna.

Bagaimana dengan bisnis properti?

Melambatnya penjualan properti sejak 2015 hingga hari ini awalnya diduga sebagai siklus 8 tahunan. Namun setelah menunggu beberapa tahun dan tidak juga pulih, maka hipotesa lain pun muncul, salah satunya adalah perubahan minat dan alokasi belanja konsumen yang kini didominasi oleh milenial yang hari ini berusia 24 hingga 39 tahun, usia yang memang seharusnya lagi getol-getolnya mencari tempat tinggal.

Perubahan perilaku dan prioritas ditambah godaan bertamasya atau traveling dari platform semacam Traveloka dan tiket.com ditambah gaya hidup ngopi dan kongkow yang ditawarkan pemain semacam Starbucks hingga Kopi Kenangan sepertinya cukup menggeser prioritas milenial untuk membeli hunian.

Walaupun masih harus dibuktikan, namun kemunculan platform-platform sewa hunian yang semakin hari kian menjamur dan mendapat traction yang terus naik seperti Travelio, Jendela360 dan Spacestock bisa menjadi fakta yang perlu didalami mengenai pergeseran prioritas kepemilikan hunian dari beli ke sewa.

Dahsyatnya dampak yang ditawarkan teknologi digital pun sudah mulai menarik pemain properti. Agent-agent properti yang dulunya amat sangat condong offline mulai menggeser strateginya dengan mengadopsi platform digital. Sebut saja pemain seperti ERA, Ray White dan Brighton yang kini tampak memperkuat aktifitas social media-nya. Sementara Century21 terlihat agresif dengan konten video di youtube.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X