SD Darmono: Membangun Bisnis Diawali Membina Manusia yang Beradab

Kompas.com - 25/07/2019, 12:30 WIB
President University bersama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menggelar acara bedah buku Bringing Civilizations Together-Nusantara di Simpang Jalan. Bertindak sebagai pembedah, Prof. Budi Susilo Soepandji Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden (YPUP) yang juga mantan Gubernur Lemhanas RI 2011-2016 dan Dr. Muhammad A.S. Hikam, Dosen President University yang juga mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi era Presiden Abdurahman Wahid, Jakarta, Rabu (24/7/2019).Dokumentasi Jababeka President University bersama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menggelar acara bedah buku Bringing Civilizations Together-Nusantara di Simpang Jalan. Bertindak sebagai pembedah, Prof. Budi Susilo Soepandji Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden (YPUP) yang juga mantan Gubernur Lemhanas RI 2011-2016 dan Dr. Muhammad A.S. Hikam, Dosen President University yang juga mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi era Presiden Abdurahman Wahid, Jakarta, Rabu (24/7/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - President University bersama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menggelar acara bedah buku "Bringing Civilizations Together-Nusantara di Simpang Jalan".

Ini merupakan karya ke-6 dari pendiri PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (Jababeka Group) Setiadi Djuandi (SD) Darmono.

Acara bedah buku tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Prof. Budi Susilo Soepandji Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden (YPUP) yang juga mantan Gubernur Lemhanas RI 2011-2016 dan Dr. Muhammad A.S. Hikam, Dosen President University yang juga mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi era Presiden Abdurahman Wahid.

Budi mengatakan buku ini bercerita mengenai semangat dan optimisme seorang Darmono dalam upaya mengatasi berbagai persoalan, terutama membina manusia sebagai kunci peradaban.

"Ini merupakan buku yang penting, bagaimana kita membangun SDM yang unggul, mengolah tata ruang, membangun smart cities dan smart people, lalu budi pekerti, etika, cinta kasih, teknologi dan tantangan industri 4.0 hingga persoalan politik," urai Budi, di Menara Batavia, Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Baca juga: Meski Potensial Default, Jababeka Jamin Progres Proyek Tak Terganggu

Gagasan yang lahir dalam buku Darmono ini sangatlah dibutuhkan untuk membangun bangsa dewasa ini.

SD Darmono, kata Budi, memilih suatu istilah teknis, "human processing factory", untuk mempertegas gagasannya, membina manusia adalah kunci peradaban.

Untuk itu, Indonesia harus memiliki konsep seperti pabrik yang memproses manusia, yaitu yang miskin jadi kaya, dan yang bodoh menjadi pandai.

Budi berpendapat, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat mutlak dibutuhkan sebuah kolaborasi.

"Jangan sampai pengertian Nation menjadi ekslusif sehingga menjadi hambatan dalam membangun bangsa," tegas dia.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X